
Alkisah ada seorang pemuda yang sedang mengamati aktivitas seorang pekerja bangunan. Sang pemuda tersebut mengamati dengan seksama segala tindak tanduk dari pekerja itu. Tangannya tidak pernah berhenti menuliskan catatan di sebuah buku tulis. Dari ekspresi wajahnya, sepertinya baru pertama kali inilah sang pemuda tersebut melihat aktivitas seorang tukang bangunan secara langsung.
Sebut saja nama pemuda itu Galuh. Galuh adalah seorang warga ibukota yang tinggal di kawasan gedung bertingkat. Seumur-umur, memang dia tidak pernah tahu seperti apa proses pembangunan rumah. Yang dia tahu selama ini hanyalah membeli langsung unit rumah yang sudah jadi. Baginya proses itu tidak penting. Semuanya bisa dibeli langsung dengan uang.
Kali ini berbeda. Ntah kenapa, Galuh sangat tertarik dengan kepiawaian sang tukang dalam membangun tembok rumah. Dalam pandangannya, sepertinya tidak terlalu sulit untuk melakukannya. Menumpuk bata demi bata, dengan pola susunan tertentu. “MUDAH”, batinnya.
Singkat cerita, akhirnya Galuh bertekad untuk mencoba melakukannya sendiri. Kebetulan ada sebidang area tanah kosong di rumahnya. “Aku akan sekat sebuah ruangan untuk ruang penyimpanan barang di rumah”, batinnya.
Hari yang ditunggupun tiba. Dengan semangat 45, Galuh membeli segala bahan yang dibutuhkan. Diapun mulai menata batu bata tersebut satu per satu. Dengan seksama Galuh mengikuti tips-tips dan langkah kerja yang diperolehnya dari tukang bangunan.
Beberapa hari kemudian, jadilah sekat ruangan gudang tersebut. Apakah kamu bisa menebak seperti apakah hasilnya?
Ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Tembok sekatan dinding yang dibangunnya terlihat miring dan berantakan. Tidak ada satupun bagian dinding yang bisa memuaskan harapan Galuh. Galuh hanya bisa termangu melihat “kesuksesan” hasil karyanya itu.
Poin pembelajaran yang bisa dipetik dari ilustrasi singkat ini yaitu bahwa kualitas hasil membutuhkan proses dan waktu pembelajaran yang cukup. Terkadang kita sering melupakan itu dan berharap mendapatkan hasil yang instan.
Makanan instan saja perlu melewati rantai proses produksi dan persiapan. Lebih-lebih lagi untuk makanan yang bukan termasuk ke dalam jenis makanan instan.

Tinggalkan komentar