Ilmu Sebab-Akibat

Oleh : Alhammad. Jombang. 2019
Pada suatu hari ada seorang mahasiswa yang kesepian, dia pergi ke warung. Dia terlihat kumuh dan stress, akhirnya si pemilik warung mengajaknya ngobrol.
Si pemilik warung : “ada apa nak, kok terlihat stress begitu..?” tanya si bapak.
Si mahasiswa : “Bingung pak, dengan sripsi saya..” dengan wajah yang kusut dan seakan tak mau apa-apa,
Si pemilik warung : “memangnya, apa yang kamu bingungkan..” tanya bapak lebih penasaran lagi,
Si mahasiswa : “manthiq pak, ilmu manthiq..” si anak mencoba untuk menjelaskan,
Si pemilik warung : “ilmu manthiq itu apa nak” sang bapak pun semakin penasaran,
Si mahasiswa : “ilmu logika pak, logika..!!” si anak pun semakin rish saat merasa semakin didesak oleh sang pemilik warung tadi,
Si pemilik warung : “logika itu apa…??” dengan polosnya, sang bapak semakin penasaran. Si anakpun semakin bingung saat didesak untuk menerangkan,
Si mahasiswa : “itu pokoknya ada induksi, deduksi, dsb.” si mahasiswa mencoba menerangkan,
Si pemilik warung : “coba contohkan, bapak tidak tau, orang bapak cuma penjual kopi” akhirnya si anak mencoba dengan semudah-mudahnya menerangkan pada si bapak dengan melihat aquarium yang ada di warung tersebut.
Si mahasiswa : “bapak punya aquarium ya”
Si pemilik warung : “iya”
Si mahasiswa : “kalau melihat aquarium itu, saya melihat sedikit kemungkinan-kesimpulam, bahwa bapak suka binatang. Berarti bapak juga punya kucing atau anjing sepertinya..!!”
Si pemilik warung : “oh, iya benar itu, terus..??!!”
Si mahasiswa : “lahh, ini logika pak. Berarti bapak kalau sayang dengan binatang, pasti juga sayang dengan orang. Kalau melihat umur bapak, berarti bapak juga punya anak dong..”
Si pemilik warung : “oh, iya benar-benar itu, saya punya anak terus..??!!”
Si mahasiswa : “kalau punya anak, pasti punya istri..!!”
Si pemilik warung : “oh, iya sangat benar, saya punya istri, terus..??!!”
Si mahasiswa : “kalau punya istri, berarti bapak tidak homo..!!”
Si pemilik warung : “iya benar itu, oke-oke. Oalah, begitu rupanya logika itu ya..”
Si mahasiswa : “sudah pak ya, saya mau balik dulu, mau melanjutkan tugas saya”
Kemudian ada pelanggan tukang becak yang mendekati si pemilik warung tadi dan bertanya : “tadi ngomongin apa ya, kok kelihatannya seru..”
si pemilik warung : “itu lhoo, ada mahasiswa yang agak stress, kuliah ilmu manthiq”
tukang becak : “Apa itu ilmu manthiq, pak..?”
si pemilik warung : “logika, ilmu logika..!!”
tukang becak : “ilmu logika.??!! logika itu apa..??”
si pemilik warung : “entah, saya agak bingung kalau disuruh menerangkan, sebentar-sebentar biar saya tanya saja sampean, sampean punya aquarium di rumah…??”
tukang becak : “tidak, saya tidak punya aquarium di rumah”
si pemilik warung : “wahh, berarti bapak, homo.. karena tidak punya aquarium”
Dari percakapan dan pernyataan tersebut, salah atau tidak..?? mahasiswa tadi mengurut dari aquarium, sampai pada kesimpulan bahwa si penjual tadi tidak homo. Sedangkan bapak tadi, tidak mengurut, pokoknya tau pangkal dan ujungnya. Menyimpulkan bahwa, punya aquarium = tidak homo dan tidak punya aquarium = homo.
Kemalasan manusia untuk mengurut sebab-akibat, kadang dapat menimbulkan kongklusi yang salah. Kadang ada dua fakta yang bukan merupakan sebab-akibat, melainkan keduanya adalah akibat dari sebab-sebab yang tidak manusia bayangkan sebelumnya.
Misalnya, pernyataan bahwa “kodok ngorek itu berarti memangil hujan” disebabkan manusia melihat dua fakta, bahwa jika melihat kodok ngorek, maka hujan akan turun. Jika difikir dan dinalar, sangat tidak masuk akal. Padahal berasal dari sebab sama, memang musimnya musim hujan, karena cuacanya mulai berubah dan yang dapat mendeteksi serta mepunyai inderanya adalah si kodok, sehingga dia bereaksi untuk membuat manusia bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Bukan kodoknya yang memanggil hujan.
Sekarang begini, apa benar hape membuat satu manusia menjadi jauh dengan manusia yang lain, menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh, belum pasti. Bisa saja, manusianya yang tidak betah dengan berkumpul dan menjalin sosial, gayanya saja dengan bermain hape. Atau jangan-jangan mereka memang tidak berani berhadapan dengan manusia langsung, lebih nyaman berhubungan dengan orang yang jauh dari mereka. Masalahnya di orangnya, bukan di alatnya, bisa jadi seperti itu. Jadi ada banyak kemungkinan. Cara interaksi yang baru, membuat tendensi manusia yang awalnya tidak terlihat, menjadi lebih terlihat.
Zaman dulu, murid yang dipukul guru tak ada masalah sama sekali. Sekarang ada istilah komnas HAM, bapak dan anak melaporkan ke komnas HAM karena dipukul gurunya, apakah yang salah adalah komnas HAM, padahal komnas HAM dibuat agar lebih mashlahah kedepannya. Manusianya sendiri saja yang tidak punya ukuran. Dulu, orang tua mau berfikir demikian, tidak sempat, sibuk dengan pekerjaan-pekerjaannya, hidupnya sudah cukup susah sehari-hari sehingga tidak bisa mengurus hal yang remeh-remeh, akhirnya orang tua lebih menyalahkan anaknya, tidak ambil pusing.
Sekarang, zaman lebih mudah, hidup lebih dimanja, akhirnya yang dulunya tidak dipermasalahkan, menjadi dipermasalahkan. Karena manusia butuh ada yang dipermasalahkan. Ketidak mampuan manusia dalam menata, mana yang penting dan mana yang tidak, justru itu yang menjadi permasalahan.
Seperti remaja yang berpacaran, lalu ceweknya melihat cowoknya bersama cewek lain, akhirnya kemanjaan menjadi fasilitas utama, langsung kirim WA dan minta untuk putus, dsb. Yang terjadi kemudian adalah konflik. Dulu, ada waktu panjang, dengan SMS atau Telfon pun masih kesulitan, ada kemungkinan untuk klarifikasi, kemungkinan cari tau ternyata cewek tadi adalah saudarinya cowok tadi. Jadi, manusia menahan dirinya karena keadaan, bukan karena keinginan dia untuk menahan diri. Sekarang, keadaan sudah memungkinkan untuk tidak menahan diri, satu-satunya cara adalah manusianya sendiri, mau atau tidak untuk menahan diri.
Ada gempa di Lombok, langsung merespon dengan status “Semoga yang dapat musibah, selalu diberi ketabaha oleh Allah” selesai, sudah merasa melakukan sumbangsih, simpati dan seluruhnya mengira kalau dia sedang mendo’akan, selesai. Dulu, ada fikiran “Saya bisa membatu apa ya, seharusnya saya menyumbangkan apa ya, dst.” Panjang waktunya. Karena teknologi, rentangnya sangat pendek dengan apa yang diinginkan dan apa yang akan dilakukan, maka tidak ada waktu lagi untuk melihat ke dalam.
Seluruh fenomena di masyrakat pada saat ini, itu “WAJAR” karena ada komodity, ada komunikasi dan ada komunity. Setiap ada perubahan komunikasi, selalu ada perubahan komunity, sehingga komodity yang berharga juga berubah, yang berharga berubah (komodity) akan juga merubah komunikasikomunikasi pun juga akan merubah komunity. Teknologi merubah seluruh komponen, sehingga terjadi ghoyah dalam masyarakat untuk menemukan keseimbangan yang baru. Mereka akan menemukan cara bagaimana interaksi yang baru. Karena setiap society pasti punya hipotesanya.
Misalnya, Indonesia paling aktif update status atau Jakarta adalah kota yang paling aktif twitternya. Di Eropa, rata-rata orang memakai twitter untuk adu gagasan. Di Amerika, kebanyakan menggunakan twitter untuk mobilysasi, untuk men-sinkron-kan idea. Sedangkan di Indonsesia, untuk mengumumkan agenda sehari-hari. Tidak ada pembahasan tentang baik atau buruk, masyarakat merespon keadaan baru, sehingga menemukan keseimbangan baru. Hipotesa masyarakat Indonesia menggunakan teknologi untuk menemukan keseimbangan yang baru. Pertanyaannya adalah apakah kita melihat keadaan Indonesia berinteraksi sekarang dengan teknologi yang baru, menuju keseimbangan yang sempurna atau malah sebaliknya..??, kalau kurang sempurna maka akan kalah dan punah dengan mereka yang mempunyai hipotesis yang lebih sempurna.

Puisi Peradaban Indonesia

PENDIDIKAN ADALAH KUNCI PERADABAN MANUSIA

Terdidik..

Adalah yang juara satu

yang dipanggil lalu maju

yang pintar lalu pusungkan dagu

yang ahli dibidang dua berlawan satu

 

yang kami dapat hanya materi

yang kami bayangkan hanya belas kasih

yang kami sandang hanya prestasi

yang kami rasakan hanya terlatih

 

apakah itu yang disebut tedidik

ternyata berbeda, antara terdidik dengan terlatih

seperti singa yang bisa duduk dikursi

hanya karena takut dicambuk

singa yang terlatih, bukan terdidik

 

memang mereka akan terlihat hebat

namun masa depan mereka akan sekarat

hati dan akal mereka akan bergulat

tak akan bisa merasakan arti hajat

menjadi pecundang sampai akhir hayat

 

Pendidikan..

Adalah Yang selalu pusungkan dada

Yang selalu mengajukan lomba

Yang selalu mengadu domba

Yang selalu menghitung nilai point juara

Yang selalu mengharap dunia

Pamor dan muka adalah prioritas utama

 

Apa bedanya dengan mangadu ayam

Yang selalu tertekan dan menekan

Agar terlihat juara pada pandangan

Agar nilai selalu diatas permukaan

Tapi sangat merusak moral peradaban

 

Timbullah para koruptor yang gersang

Bermunculan para pecundang

Yang biasa disebut politik uang

Mengapa mereka bermunculan

Karena dari awal telah terlatih menjadi pejabat

Tapi belum terdidik menjadi pejabat

 

Kita adalah manusia

Bukan hanya otak dan raga

Bukan hanya nilai yang terlihat di mata

Kita punya hati dan jiwa

Kita punya cinta yang harus dirasa

Mental adalah prioritas utama

 

Kita punya kata hati yang harus diwujudkan

Jiwa kami tak bisa dipaksakan

Jangan disalahkan, jika yang terbenak hanya pelampiasan

Karena dari awal, hati kami tak pernah didengarkan,

Maka hobi kami adalah, tak akan pernah mendengarkan

AGAMA ADALAH KUNCI PERADABAN MANUSIA

Agama telah terlihat sempit

Dihadapan para generasi rumit

Agama telah dipandang materi

Terhadap mereka yang selalu terpaku pada teori

 

Sholat agar dapat dua puluh derajat

Shodaqoh agar kaya dengan cepat

Puasa agar naik tingkat

Naik haji agar tak disebut bejat

 

Oh.. tidak…!!

Menjadi pengguguran kewajiban saja

Kita telah terhipnotis pada aturan

Terlalu tepengaruh dengan pengertian

Pengertian dari ilmu kebarat-baratan

 

Lupa dengan Sang Pencipta

Lupa dengan Sang Pemberi Pahala

Lupa dengan Sang Pemberi Derajat dan Surga

Yang kita harapkan bukan pahala

Bukan pula nikmatnya surga

 

Bukan materi yang diruhanikan

Melainkan ruhani dimaterikan

Bukan agama yang diteorikan

Tapi teori yang diagamakan

 

Keluarlah dari iklan dunia

Keluarlah dari bungkus yang menggoda

Terlihat menggiurkan dan mempesona

Saatnya kita tau yang sebenarnya

Karena dunia ini sangat sementara

 

Agama adalah Allah,

Milik Allah,

Dari Allah,

Untuk Allah,

Dan karena Allah Kita berada disini

 

Gemerlap malam, bintang dan bulan

Lembut dan damainya langit serta awan

Siapakah gerangan Sang Pencipta

Dialah Sang Maha Kuasa, Sang Maha Bijaksana, Sang Maha Luar Biasa

ALQUR’AN ADALAH KUNCI PERADABAN MANUSIA..

Buat apa kita menjaga Kitab Suci

Jika selalu mencari hitam diatas putih

Jika selalu uang yang dicari

Jika selalu pamor yang dicari

Jika selalu mencari prestasi

 

Buat apa hafalan AlQur’an

Jika selalu asing dari segala persoalan

Jika jiwa dan hati tak pernah merasakan

Jika otak dan mental selalu tertekan

Jika setelahnya, tak tau apa yang harus dilakukan

 

Apa hanya deresan kesana-sini

Apa hanya selalu mengikuti ajang MTQ

Apa hanya selalu mengikuti ajang bergengsi

Apa hanya menunggu belas-kasih

Dari pungutan barokah sana-sini

 

Bangkitlah para penjaga AlQur’an

Jangan terlalu berpatok pada materi

Jangan terlalu berpatok pada teori

Jangan terlalu berpatok pada rayuan duniawi

 

Akankah kita dipandang mulia dihadapan Tuhan

Tiadanya  sahabat umar karena pembunuhan

Pembunuh, ahli tafsir dan hafal qur’an

Apakah sangat mulia tindakan demikian

 

Bagaimana dengan golonngan faminhum dholimullinafsih

Tak pernah menempatkan hakikatnya Alqur’an dalam hati

Hanya berputarnya dari otak ke mulut karena digaji

Tadabbur dalam jiwa pun hanya lawakan siang-malam hari

 

Pahami apa yang kita hafal dan baca

Benar, membaca saja sudah dapat pahala

Lalu apa kita hanya sampai sana

AlQur’an itu bukan buku hafalan biasa

Akankah, hanya agar bisa ikut hafidh Indonesia

Ataukah, hanya seperti hafalan alfiyah

 

Lalu apa bedanya kita dengan MP3

MP3 lebih juara dalam mengaji

Apa bedanya dengan burung beo tadi

Mereka tak tau dan tak mau tau tentang arti

Penghafal kitab suci adalah mereka yang terpilih

Tak bisa memaksakan seorang diri

 

Ternyata bukan, prioritas yang terlupakan

Disamping barokah dan pahala saat membaca

Adalah pentingnya amalan dan penghayatan

Peresapan dan pemahaman dalam jiwa

 

Kita adalah pendobrak pintu masa depan

Yang selalu menjawab seluruh persoalan

Kita adalah juru bicara Tuhan

Yang mewakili hati dan jiwa para insan

KLIMAKS DAN PENYELESAIAN

Bukan soal kunci peradaban.. Pendidikan, penghafal qur’an dan agamawan

Indonesia adalah kunci peradaban manusia…

Bhineka tuggal ika yang terlupakan

Prioritas luar lingkup adalah pertarungan

Prioritas dalam lingkup adalah toleran

 

Bagaimana kita bisa disebut bangsa… Jika selalu mementingkan partai politik masing-masing

Selalu mengutamakan agama masing-masing

Selalu mengagungkan bidang masing-masing

Selalu menjuarakan pendapat masing-masing

 

Kita adalah elang, gagah perkasa … Yang lupa dengan cakar dan paruhnya

Selalu mengagungkan amerika… Padahal kita kaya akan bahasa… Kaya akan hati dan jiwa

 

Kita tak percaya diri, Selalu meniru luar negri, Imam yang berpatok dengan teori, kita telah terjajah dengan iming-iming materi

 

akibat dari jajahan orang barat,… pemikiran yang begitu bangsat,… selalu memburu generasi bejat,… agar dapat merebut pusaka nusantara…

 

Kita telah merdeka.., Merdeka dari doktrin belanda,… Merdeka dari penekanan jiwa,… Merdeka dari adu domba,… Merdeka dari perpecahan politik dunia…

 

Jiwa mudamu menentukan nasib dunia
Api semangat mengobar untuk melindungi manusia
Menjaga keutuhan bangsa dari sudut kecil mata
Melenyapkan musuh yang tersembunyi dikesepian

 

Tidak akan aku biarkan Indonesia merdeka bercerai-berai
Dahulu pahlawan pembela terus semangat berjuang
Melumpuhkan serangan berjuta tentara perang
Engkau pertaruhkan hidupmu di ujung pedang tajam

 

Semangat pemuda membangun peradaban
Mampu bersaing dengan negara satu dengan yang lain
Pegang teguh dasar panutan bangsa Indonesia
Hingga luluh lantahkan manusia yang mengusik keutuhan

Indonesia merdeka harga mati sang pembela tanah air
Kebebasan yang tidak dapat di beli hanya ingin di hargai
Kesatuan mengumpulkan rumpun kerukunan negara
Mengamankan ciri kekayaan budaya dan adat istiadat yang dipunya

Hari merdeka …

 

Pemuda mengenang jasa pahlawan yang telah gugur
Terlukis dipeninggalan prasasti-prasasti peristiwa bersejarah
Genggam kuasa demi berdirinya kebebasan
Pertahankan dengan keras hasil kemerdekaan pahlawan

 

Siapa.. yang menculik nusantara ini

Siapa.. yang menculik nusantara ini

Lambat atau cepat, waktunya akan datang

Aku akan ambil… aku akan tebus…

Dari jalan pendidikan, agama dan menghafal Alqur’an

SEPEDA MOTOR

HIKMAH MENGENDARAI SPEDA MOTOR

Dalam mengendarai sepeda motor kita dibutuhkan kefokusan dan konsentrasi yang tinggi demi mencapai tujuan dalam waktu dan tempat yang sesuai apa yang di harapkan dan di jadwalkan sejak awal. Di dalam mengendarai kita juga diharuskan untuk tidak egois, toleransi dalam segala hal, menjadi moderat dan tidak radikal. Banyak sekali pelajaran hidup yang terkandung di dalamnya,

  • Sebelum kita memulai berkendara dalam satu perjalanan sudah pastinya kita harus mempunyai keinginan (niat), dan tujuan yang pasti. Dalam kehidupan kita sekarang sebelum memulai suatu tujuan atau target, kita harus punya niat, tujuan dan target yang pasti
  • Nyalakan mesin sepeda dan jangan lupa untuk memanasi sepeda tersebut agar sepeda kita tidak cepat rusak atau mati di tengah jalan. Dalam kehidupan kita, dalam memulai sesuatu sudah seharusnya kita membutuhkan pemanasan agar apa yang kita kerjakan nanti menjadi maksimal dan tidak donna tau nge-henk di tengah perjalanan kita.
  • Dalam perjalanan kita di haruskan untuk focus dan konsentrasi agar tidak menyalahi aturan lalu lintas yang sudah di tentukan bukan berartti harus berfikir hanya satu saja atau melihat hanya satu titik saja kita juga bisa melihat atau melirik kanan kiri kita agar tau jalan yang kita lalui itu bagaimana dan apa . Kita harus focus dan konsetrasi dalam menjalani sesuatu demi tercapainya tujuan, tapi bukan berarti kita hanya focus hanya satu titik saja, kita juga boleh untuk melihat kanan kiri agar mengetahui medan atau lapangan yang kita lalui (mengenal jalan itu penting)
  • Dalam perjalanan kita diharuskan untuk toleransi, bersifat moderat (menjadi penengah) karena jalan yang kita lalui itu bukan milik nenek moyang kita tapi milik umum
  • Mendahulukan yang lebih mashlahah dari kedua mafsadah, dalam menentuak pilihan kita maju, mundur, kanan, kiri
  • Terus maju. Boleh mengurangi atau menghentikan kecepatan, tapi tidak untuk mundur
  • Kadang juga kita diperlukan berhenti dalam perjalanan agar kita mengetahui apa yang kita lalui itu di jalan yang benar atau salah
  • Biarkan mereka terus menyalip kita karena itu hal yang terbaik demi kemashlahatan, tapi ingat kita kecil, bersepeda juga punya jalan pintas yang hanya bisa di lalui oleh sepeda saja,
  • Semua hal yang praktis atau instan itu juga punya efek yang tersendiri juga, banyaknya polisi tidur, jalan yang rusak dan tidak nyaman saat di lalui
  • Injak kopling sesui ukuran kecepatan yang diperlukan, tidak terlalu cepat atau juga tidak terlalu lambat. Dalam hidup kita kita harus menyesuaikan kecepatan kita dalam menjalaninya agar tidak merusak diri kita sendiri
  • Jangan mengalah, jangan menyerah, jangan minder tetap focus dan tidak menghiraukan pandangan orang lain

FILOSOFI BERSPEDA

  • Penuh rasa ingin mencapai tujuan dengan cepat dan tepat, tapi rasa tergesah-gesahan itu harus diimbangi dengan lembutnya hati, toleransi dan saling menghargai sekitar kita.
  • Selalu menempatkan dan memakai pada waktu dan tempat masing-masing antara kontrol kecepatan dari gigi satu sampai empat.
  • Selalu melihat kebelakang (sejarah/masa lalu) dengan perantara kaca, saat kita mau belok atau mengurangi kecepatan. Jadi, fokusnya kedepan harus didukung dengan dorongan sejarah/masa lalu/peran pendahulu tentunya. Seperti lagi, jika mau memanah, harus ada dorongan dan tekanan kebelakang untuk bisa melesat kedepan.
  • Fokus, bukan hanya satu titik, tapi banyak titik dengan usaha dan pemikiran yang luas.
  • Injak kaki (kerja/gerak nyata) untuk mencapai kecepatan yang maksimal pada waktu dan tempat masing-masing.
  • Tunggangan kita adalah agama dan Sang Pencipta. Harus kenal, penuh pengertian, perhatian dan rasa cinta dengan apa yang ditunggangi. KarenaNyalah yang memberi rasa nyaman dan aman saat kita berambisi ingin mencapai tujuan yang diinginkan.
  • Segala aturan (syari’at) harus diikuti jika tidak mau terkena hukuman yang tidak diinginkan, meskipun kadang tak masuk akal jika disikapi dengan nalar.
  • Harus mengikuti alur jika ingin selamat, bukan hanya ambisi yang menggebuh, atau bahkan melawan alur. Harus menguatkan rem (dasar-dasar pemikiran/syariat/rahmatal lil alamin) jika tak mau terjadi apa yang tak diinginkan, yang membuat lingkungan menjadi berontak dengan apa yang kita lakukan, karena kadang lingkungan tidak mengerti apa yang kita maksud, mereka hanya melihat apa yang ada dimata dan menyimpulkan dengan sesimpel-simpelnya, tak mau berfikir panjang dan luas.
  • Selalu menyertakan kunci (AlQur’an/hadits/dasar-dasar Islam) jika kita mau berjalan menggapai yang diinginkan. Karena kunci, sebagai panduan, inisial dan sebagai penyambung baik dhohir maupun batin antara yang menunggangi (makhluq/manusia) dengan kendaraannya (agama/Sang Kholiq).
  • Harus ada update oli/mesin (mendengar dan melihat, apa yang harus di ganti dan diperbaiki) harus selalu membuka dengan rasa dan pemikiran, apa yang menjadi dasar selama ini. Jika tak sesuai, maka di ganti atau diperbaiki dengan kembali pada Sang Maha Kuasa, karenaNyalah yang paling mengerti masalah yang kita hadapi.

 وااله يعلم وأنتم لا تعلمون

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ…

اللهم انفعنا وارفعنا بالقرآن العظيم الذي رفعت مكانه وأيدت سلطانه وقلت يا أعز من قائل سبحانه فإذا قرأناه فاتبع قرآنه ثم إن علينا بيانه أحسن كتبك نظاما وأفصحها كلاما وأبينها حلالا وحراما محكم البيان ظاهر البرهان محروص من الزيادة والنقصان فيه وعد ووعيد… لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيل من حكيم حميد

Peresmian GOR IMAM NAHRAWI di PP. Madrasatul Qur’an Tebuireng Jombang 

Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Dr. (HC) Imam Nahrawi, S.Ag., M.KP., Jum’at, (08/02/19) hari ini, telah meresmikan Gedung Olahraga IMAM NAHRAWI. PP. Madrasatul Qur’an Tebuireng Jombang. Bersama beberapa asisten MENPORA, DEPUTI II dan DEPUTI IV Kemenpora, serta KH. Abdul Hadi Yusuf, selaku Bapak Pengasuh bersama Mudir I  Pondok Pesantren MQ Tebuireng Dr. KH. A. Musta’in Syafi’i, M.Ag.

Gedung ini telah dibangun kurang lebih satu tahunan, yang telah disumbangkan oleh MENPORA untuk fasilitas baru Pondok Pesantren tersebut. Mengingat keahlian santri bukan hanya dalam bidang salaf dan AlQur’an saja, melainkan juga harus didukung melalui bidang olahraga.

MENPORA, juga menyebutkan dalam sambutan peresmiannya (08/02/19, 14:00). Bahwa, “Santri di zaman sekarang tidak hanya harus bisa ngaji, juga harus ahli dalam bidang olahraga. Maka dari itu, kami memberi apresiasi dan fasilitas kepada santri MQ, agar lebih semangat dalam menghafal AlQur’an dan mengamalkannya, khususnya dalam bidang olahraga. Lebih-lebih bisa membawa nama baik MQ, sebagai santri penghafal AlQur’an yang terjun ke jenjang Liga Nasional nanti”

Meskipun acara tersebut agak terjadi sedikit kendala, karena cuaca hujan yang turun. Tapi tetap, acara tersebut berjalan khidmat sebagaimana yang diharapkan oleh Bapak Pengasuh

Setelah acara peresmian berlangsung dengan lancar, dilanjutkan dengan keseruan pertandingan futsal antara Tim Pengasuh, Mudir I MQ, Menpora, Deputi II Kemenpora melawan Tim Santri MQ Tebuireng.

Ketidak Mahaa-Nya Adalah Sekaligus Kemahaa-Nya

Seorang ateis mengatakan bahwa semesta ada dengan mulanya ledakan besar hingga melemparkan material-material saling bertabrakan berserakan, bersatu, hidup dan tumbuh. Debu-debu langit bersatu membentuk tata surya melahirkan planet-planet beredar di sekitar bintang inti. 

Mikroorganisme perlahan tumbuh dan berevolusi menjadi makhluk baru, terus berkembang biak menjadi sekelompok, jenis dan karakteristik masing-masing. Manusia lahir dari sekelompok monyet yang berevolusi tumbuh kembang dengan kelompok bertutur. 

Tahun demi tahun peradaban tumbuh. Hingga membantu evolusi permukaan bumi. Dan Tuhan tidak pernah lahir.

Kekejaman sains adalah membunuh Tuhan. Teori demi teori dilahirkan, ketika teori menjadi masuk akal terbitlah hukum. Semakin berguna hukum itu membuatnya semakin berharga hingga memosisikan dirinya di tempat yang tinggi. 

Bukankah ini biadab, tidak bermoral membenarkan sesuatu yang hanya berawal dari sebuah kemungkinan. Bukankah masih banyak kemungkinan lainnya yang dapat dipertimbangkan. Hal tersebut akan membunuh kemampuan manusia lainnya untuk mengoreksi karena semua hukum-hukum itu disebutkan sebagai suatu kebenaran.

Ada satu momen ketika ajaran (kepercayaan) yang membenarkan sains, kecongkakan sains semakin menjadi. Namun, saat ajaran tak mampu dijawab dan dijelaskan sains, ajaran menjadi suatu kesalahan. Dan doktrin pendidikan (khususnya dalam kepercayaan) seringkali memisahkan diri dari sains. sehingga keduanya tidak bertemu dalam pikiran masyarakat luas.

Seorang guru mengajarkan pada murid-muridnya bahwa agama tidak pernah masuk akal karena lahirnya dari Tuhan. Oleh sebab itu, sains bukanlah ajaran Tuhan, ucap guru agama itu. 

Begitu pula sebaliknya, seorang profesor sains merasa agama tidak pantas disandingkan dengan sains karena tidak masuk akal dan itu kegilaan tak beralasan hanya sebuah doktrin belaka. Agama hanyalah bagian dari peradaban terdahulu yang harus dikaji ulang untuk mengikutinya.

Haruskah tidak masuk akal itu dihindari? Apakah ketidakmasukakalan tersebut sebuah keterbelakangan peradaban yang sudah seharusnya ditinggalkan? Bukankah agama itu hanya sebuah pengalaman spiritual individu yang menjadi bagian pribadinya yang tak pantas untuk ditentangkan. Akan tetapi kenyataannya berbeda, konflik antar kepercayaan menjadi-jadi. Terlebih lagi demi kepentingan politik, adanya agama seolah-olah sebuah senjata yang siap untuk digunakan.

Jika kepercayaan adalah kunci untuk menemukan kebenaran maka kepercayaan itu harus dapat dipercaya oleh seluruh umat manusia. Jika manusia memiliki berbagai macam kepercayaan lalu apa yang dapat menjadi tolok ukur kebenaran?

Sudah penulis uraikan sebelumnya bahwa tidak seharusnya kebenaran menjadi dasar untuk bersatu (lihat ini). Karena pada dasarnya semua kepercayaan bahkan suatu ideologi pun mengaku memiliki kebenaran. Lalu jika semua merasa benar maka dan pasti semua dapat disalahkan. Lalu apa yang seharusnya menjadi dasar untuk bersatu?

Penulis menawarkan pada dunia bahwasanya sudah seharusnya untuk mencapai suatu kesepakatan tingkat tinggi harus adanya pemikiran bedasarkan dalil kesesuaian. Karena dalil-dalil yang sering diucapkan saat ini seperti agama, kesetaraan, etika lingkungan, hak asasi manusia dan lainnya. Semua itu memiliki kontradiksi terhadap satu dan lainnya. 

Sebut saja para liberal yang menggugat tentang kesetaraan yang sering bertolak belakang dengan agama. Ada juga seorang agamawan yang mengaku liberal. Bahkan seorang pemilik perusahaan besar menganggap dirinya seorang sosialis atau marhaenis yang mana bangunan pabriknya didirikan diatas sengketa tanah rakyat. Dan masih banyak lagi isme-isme yang selalu masuk dalam jurnal ilmu sosial berkembang berdasarkan egoisme fanatiknya.

Permasalah awal dikarenakan adanya pembenaran ilmiah. Ketika suatu pemahaman ilmiah dikemukakan dan mendapatkan suatu pembenaran di dalam masyarakat yang mana notabene ilmiah bukanlah suatu kebenaran mutlak. Akan tetapi dukungan dari para cukong yang ingin mengambil keuntungan dari adanya sebuah pemahaman ilmiah mengucapkan itu berulang kali seolah-olah itulah dalil kebenaran sesungguhnya. 

Kelompok-kelompok fanatik pun buta dalam melihat ideologinya sendiri. Pembenaran ideologi dapat menjatuhkan martabat penganut ideologi lain. Bukankah suatu kemungkinan apa yang ada dalam semua ideologi memiliki hal yang positif. Namun, semuanya juga tidak dapat dicampur adukkan.

Seharusnya semua produk-produk ilmiah digunakan bukan sebagai dalil pembenaran. Para ilmuwan pun harusnya dengan jujur mengungkapkan hasil jerih payahnya hanyalah sebuah kemungkinan. Bukan hanya itu saja, kelompok-kelompok yang terus-menerus meneriakkan ideologi nya harus bersikap fair bukan taklid buta. 

Terlebih pada penganut sebuah agama, jika yang diucapkan-ajaran agama- hanyalah sebuah kemungkinan dalam nalar sehat manusia. Maka lihatlah seluruh agama yang ada di dunia ini yang mana yang paling memungkinkan. Siapa yang dapat menguji sebuah kebenaran agama melainkan akal pikiran manusia itu sendiri.

Jika dikembalikan pada pertanyaan apakah Tuhan itu ada? Maka jawabannya adalah Tuhan itu ada. Mengapa demikian? Karena tidak ada yang mampu memberikan penjelasan tentang ketiadaan Tuhan. Bahkan seorang atheis pun tidak dapat memberikan penjelasan itu. Yang mereka lakukan hanyalah pembenaran atas keputusan mereka bahwa mereka menutup mata.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan jika Tuhan ada? Mencari tahu tujuan mengapa manusia diciptakan. Dengan apa? Mempelajari agama yang mana hanya agama yang dipercaya memiliki pesan Tuhan. Bagaimana untuk mengetahuinya, karena terlalu banyak agama yang mengaku sebagai pesan Tuhan? 

Sepanjang sejarah hidupnya manusia hingga kini ada kepercayaan yang mulai ditinggalkan dan ada yang tetap bertahan. Agar lebih selektif dalam memilih ajaran mana yang pantas lebih dahulu dipelajari karena perlu waktu yang sangat lama untuk mempelajari sebuah agama, maka perlulah memilah berdasarkan pernyataannya paling mendasar sebuah agama yaitu Tuhan seperti apa yang mereka yakini? Lalu doktrin apa saja yang tumbuh dalam ajaran tersebut yang kemudian harus dipelajari. 

Berkenaan tentang penciptaan, ada etika yang berkembang di kehidupan beragama yaitu hirarki Tuhan dan makhluk. Jika itu ditinggalkan maka hal demikian itu bukanlah perilaku umat beragama. 

Banyak yang berpendapat bahwa semua agama itu sama mengajarkan kebaikan seperti yang diungkapkan oleh golongan agnostik. Sebenarnya apa yang mereka katakan didasari bukan dari melihat etika dalam bertuhan melainkan etika dalam berkehidupan. Karena jika melihat agama sebagai etika bertuhan maka tidak ada agama yang sama dalam hal itu. 

Untuk itu perlunya menelaah lebih jauh mana agama yang benar-benar meletakkan etika bertuhan yaitu Tuhan sebagai Tuhan dan manusia sebagai manusia, bukan Tuhan sebagai manusia atau manusia sebagai Tuhan. Ada beberapa prinsip dasar bertuhan. 

Pertama, Tuhan sudah pasti bukan ciptaan, karena awal mula penciptaan semesta harus ada yang mengawali berdasarkan hukum sebab-akibat. Karena itu menganggap Tuhan sebagai pencipta adalah suatu keharusan dan sudah seharusnya Tuhan yang menciptakan.

Kedua, Tuhan berkuasa terhadap ciptaanya. Apapun yang dilakukan Tuhan bukan urusan manusia untuk menghakimi Tuhan termasuk perintah Tuhan. Tuhan juga tidak terikat hukum apapun atau aturan apapun itu tidak akan mempengaruhi kekuasaanya. Apalagi ada manusia yang mencoba mengoreksi Tuhan dengan akal pikiran manusia. Akal pikiran manusia hanya sebatas mampu untuk menelaah akan bukti keberadaan-Nya dengan didasari dari apa yang diciptakannya.

Kedua prinsip dasar bertuhan itu kiranya cukup untuk dapat menjadi acuan dalam mencari keberadaan-Nya dan di mana kebenaran-Nya diselipkan. Dalam rangka menyelaraskan presepsi tentang prinsip dasar Tuhan untuk mendapatkan asas berkehidupan yang jelas dan sesuai dengan keadaan. Karena segala konsep-konsep kehidupan manusia yang ditawarkan oleh akal pikir manusia dalam perjalanan waktu akan mendapatkan titik erosi penghabisan. 

 

Klarifikasi dan Komunikasi 

Disamping segala hal yang menyangkut probematika, prosedural, struktural, hukum, sistem dan segala yang menyangkut buatan manusia sendiri, yang dijadikan patokan agar manusia lebih evisien dalam menjalankan kehidupan, bukan Tuhan. Hakikat manusia juga adalah makhluk sosial, jelas berbeda antara berbicara dengan atasan, bawahan atau bahkan sepantaran.

Kehidupan ini berjalan sebagaimana mestinya, bukan soal roda atau perputaran kehidupan. Hanya soal penyebutan saja yang membuat segalanya menjadi rancu. Jika maling yang teriak maling, lalu apa bedanya dengan maling tersebut, justru orang yang memandang bahwa dialah yang maling.

Tak ada yang benar juga tak ada yang salah. Karena, إن أكرمكم عند الله أتقىكم. Yang dinilai Allah bukan jumlah sholatnya, tapi أتقىكم. Tidak ada pula sebutan عند الناس، tapi عند الله. Jadi, segalanya tak ada yang berhak menilai. Manusia hanya berusaha agar menemukan yang sebenar-benarnya benar dari Sang Maha Benar. Dalam peristiwa Rosulullah, “saya (Rosulullah) tidak mengatakan, bahwa kurma itu tidak perlu dikawinkan, saya mengatakan, saya pikir tidak perlu dikawawinkan. Lalu kalian mendengarnya jangan dikawinkan, akhirnya gagal panen, kalian yang kesulitan sendiri. Kemudian Rosulullah mengatakan أنتم آعلم بأمور دنياكم ”

Jadi kesalahan dan kebenarannya tak ada, bukan pada teori, bukan pada apapun saja yang dikonsepkan. Hanya kejelasan dan komunikasi saja yang kurang harmonis, yang memanusiakan manusia saja.

Sebenarnya, jika manusianya saja yang membuat komunikasi yang jelas, setiap individu-personal saling menyambungkan satu sama lain, dengan ‘arif dan bijaksana. Maka tak ada yang dikatakan menghewankan manusia.

Manusia yang terbakar hanya karena komunikasi yang menginjak harga diri, kejelasan yang buram hanya karena kaca mata. Semuanya tak akan terselesaikan hanya dengan rasan-rasan, semuanya tak akan terselesaikan hanya dengan khataman AlQur’an, semuanya tak akan terselesaikan dengan api yang diminta oleh api, semuanya tak akan terselesaikan oleh batu yang diminta dibenturkan oleh batu, yang memaksa kapas untuk menjadi batu.

Dewasa, jentel dan profesional adalah komitmen, tanggung jawab, berani berbicara dengan ‘arif, berani menjelaskan dengan rinci, berani mengambil keputusan, berani dengan dasar yang kuat. Bukan dengan genggaman dan ucapan yang tak ada kejelasan, hanya karena yang dimintai kejelasan memancing kejelekan, bukan dengan kekeluargaan.

Sastra kiri yang kere atau dalam pengertian sastra kontekstual pada faktanya berkembang dan menjadi nalar kebudayaan pada tahun-tahun berikutnya hingga kini. Pusat wibawa sastra yang berada pada Majalah Horison dan Taman Ismail Marzuki tamat. Setiap orang kemudian percaya diri menerbitkan karyanya sendiri.

Dengan demikian, fase ini juga menandai matinya “wibawa kritik”, meminjam istilah Goenawan Mohamad. Meskipun GM bukan pada posisi membela kewibawaan kritik, seperti tanggapannya terhadap tulisan Wiratmo Soekito, Kegagalan Kritik Sastra Indonesia Dewasa Ini. GM menulis, ”Sebab yang kita butuhkan kini dan untuk seterusnya bukanlah kewibawaan kritik. Yang kita butuhkan adalah usaha pencarian nilai yang tetap diteruskan.”

Namun, sastra kontekstual yang diramu dengan dua prinsip dasar, subversif dan karakter (bangsa) pada perjalanannya tidak semulus gagasannya. Terutama pada konsep karakter atau menjadi manusia utuh yang berbicara persoalan besar bangsa. Kapitalisme akhir dan postmodern yang ditandai dengan globalisasi menggelapkan cita-cita. 

Dengan kondisi, sebagai upaya memanipulasi dan membangun propaganda kepalsuan atau kesadaran semu dalam masyarakat untuk menutupi kepentingan kapitalisme akhir.

Setiap pengarang bisa menulis secara bebas dan kontekstual dan tak tersentuh kritik. Sementara sebagian yang lain menciptakan mekanika kebudayan pasar melalui dukungan industrial media. Disini, mungkin benar GM, bahwa paling penting pada akhirnya pencarian nilai-nilainya (?).

Meresahkan Pendidikan yang Tak Lagi Humanis Kritik Pendidikan

Bebas berpikir dan menciptakan kreasi, itulah esensi dari pendidikan yang sesungguhnya. Tanpa adanya kebebasan maka eksplorasi atas suatu objek pengetahuan tidak akan pernah ada. Begitu pula tanpa adanya kreasi, jelas tidak akan ada penemuan-penemuan baru, seperti smartphone yang kita nikmati saat ini.

Saya sedikit paham kekhawatiran beberapa sahabat hipster, mereka mengeluh jika pendidikan mereduksi daya imajinasi dan kreasi mereka. Tidak hanya itu saja, beberapa orang tua juga melihat jika pendidikan kini, semakin hari semakin tidak mutu. Karena para orang tua merasa, jika pendidikan hari ini semakin condong pada reduksi bakat dan minat. Tidak ada yang baru kecuali menterinya, tiap ganti menteri kurikulum selalu berganti, tapi tetap wataknya sama yaitu tidak memanusiakan manusia.
Kemarin saja, seorang siswa curhat mengenai lelahnya mengikuti ujian, jadwalnya padat dan lelah secara fisik serta psikis. Entah orientasi seperti apa yang dijalankan oleh pembuat kebijakan, kurikulum yang sepenuhnya tidak mendukung daya kembang anak. Parahnya dalam pendidikan tinggi juga sama, mahasiswa hanya dijadikan seseorang yang biasa-biasa saja. 
Mengerjakan sesuatu yang tidak substansial seperti PKM (yang tak jarang bertolak belakang dengan disiplin ilmu), bahkan menjadi agen kampus untuk menaikan derajatnya. Inilah era korporasi pendidikan, di mana bersaing satu sama lain. Jelas, melenceng dari apa yang namanya pendidikan untuk memanusiakan manusia.
Sekolah dimaknai sebagai tempat seseorang menjadi pintar, dapat ranking dan nangkring sebagai pegawai negeri maupun swasta bergengsi. Tujuan dari sekolah hanya mendapatkan ijazah, terlihat intelek dan dihormati tetangga. Namun yang paling menjengkelkan ialah sekolah untuk merubah derajat seseorang. 
Dari yang anak petani kemudian dapat beasiswa, lalu menjadi ahli di bidang misalnya pertanian. Si orang tua akan menuntut anaknya bekerja di perusahaan besar seperti Monsanto, Indofood atau PNS, minimal membahagiakan mereka dengan tawakal dan istiqomah ikut CPNS. Langgam berpikir seperti ini umum kita jumpai, mengapa demikian?
Kejadian itu merupakan sebuah dominasi kebudayaan (hegemoni). Di mana saat era Orde Baru pandangan-pandangan seperti itu dikonstruksikan, wajar saja memang pendidikan itu jalan untuk mendominasi. Pertama konstruksi politik, menurut Yudhistira (2013) era politik orde baru saat itu ialah pembangunan dan dominasi kekuasaan, di mana struktur masyarakat seperti sebuah hirarki dalam keluarga bercorak patriarki.  
Di mana sang bapak dominan, sang anak harus menuruti sistem yang dibuat oleh bapak. Sampai urusan cita-cita akan menjadi soal yang harus dikonstruksikan, apalagi dalam pembangunanisme dibutuhkan banyak sumber daya manusia. Maka tak heran jika cita-cita terdahulu ialah menjadi tentara, insinyur dan dokter semua untuk mendukung pembangunan. Jikalau ada yang menjadi PNS, tak lebih juga karena “dogma” mengabdi pada negara dan sisi komersial ingin hidup dalam tataran hirarki yang terhormat.
Selanjutnya kebudayaan menurut Geertz (1973) merupakan sesuatu yang bersifat publik, dihasilkan dari interaksi yang terangkai secara historis, lalu menjadi sebuah wadah di mana manusia terkungkung di dalamnya. Kebudayaan di sini adalah konstruksi hasil kesepakatan manusia, yang terangkai dalam proses cipta dan karya. Begitu pula ketika mengutip Edward Said (1995 dalam Yudhistira, 2013) yang mengatakan kebudayaan ialah hasil dari proses sejarah dan tradisi yang berlangsung cukup lama.
Itulah mengapa konstruksi orde baru begitu mendominasi, sampai pada level pendidikan yang dimodifikasi sedemikian rupa untuk mendukung politik pembangunannya. Sehingga menciptakan kepatuhan-kepatuhan dan cita-cita yang tidak organik. Sisa-sisa konstruksi semacam itu masih kita jumpai, bahkan tidak serta merta hilang ketika era reformasi muncul sebagai pembaruan.
Transformasi pendidikan di era reformasi juga sangat terpengaruh oleh arah politik di era reformasi. Kita bisa melihat mengapa sistem rangking, kompetisi masih dipertahankan ? Secara sederhana itu bagian dari corak ekonomi politik sekarang. Menuntut seseorang untuk kompetitif, agak egois, cukup individualis agar sesuai dengan iklim pasar bebas. 
Secara menakutkan ini akan menciptakan klasifikasi sosial, lihat saja di sektor buruh ada penyebutan buruh dan karyawan padahal esensinya sama. Lalu, bagaimana stigma pada mereka yang mempertahankan budaya misal suku di Papua, Samin di Jawa Tengah dan Badui di Jawa Barat, mereka akan menganggap sebagai masyarakat yang anti kemajuan. Karena yang mereka lihat pekerjaan yang hebat itu dikontrak dan berseragam, budaya yang keren itu suka kemewahan, tak peduli eksploitasi dalam bentuk apapun, baik individu maupun alamnya.
Hal itulah yang menjadikan sekolah tempat yang sedemikian mengerikan. Pola-pola tersebut terajut mutakhir namun sebenarnya tidak baru. Student loan misalnya pernah ada di tahun 80an, atau model kompetisi itu lahir di era Orde Baru. Sekarang langgam pendidikan masih sama, hanya berbeda kulit saja. Paling yang membedakan hanyalah status sekolahan yang terakreditasi, internasional, nasional atau tidak. Pendidikan sekarang hanya bagaimana kita “berjualan.”
Ini hanya pendapat berdasarkan pengalaman. Ki Hadjar dalam kumpulan karyanya tentang pendidikan (Jilid 1, cetakan ketiga 2004) mengemukakan bahwa pendidikan itu disesuaikan dengan minat dan bakat berprinsipkan kemanusiaan dan berorientasi kepada kemerdekaan. Seperti berdiri di kaki sendiri, tidak menggantungkan pada orang lain dan dapat mengatur hidupnya sendiri. 
Bukan individualis di sini, tapi melihat pada independensi diri dalam bersikap serta menentukan diri sendiri. Kemudian secara mendasar untuk membangun independensi yang berkarakter, beliau menekankan pada prinsip budi manusia, baik budi pekerti dan keluhuran budi manusia. Mendidik manusia ke arah kolektivitas, manusia-manusia sosial yang peduli sesama, itulah pendidikan humanis Ki Hadjar yang pernah diterapkan di Taman Siswa.
Pendidikan bukan menciptakan robot, menciptakan predator tapi menciptakan manusia yang memanusiakan manusia. Adanya kekerasan di sekolah, baik oleh murid, wali murid atau guru merupakan dampak dari pendidikan yang masih tidak berubah langgamnya. Guru dari generasi lama masih ditempatkan sebagai sosok tunggal yang dominan, murid dalam era kekinian memiliki keberanian, wawasan luas serta pemikiran yang cukup skeptis. 
Itulah yang tidak pernah diakomodasi oleh sekolah, era perkembangan manusia telah mutakhir tapi pendidikannya masih sama. Kemudian ditambah dalam pemutakhiran pendidikan yang juga tidak mutkahir, karena apa ? tidak melihat kebutuhan dan condong masih diskriminatif.
Pendidikan merupakan kunci dari pondasi pembangunan suatu masyarakat. Apa kalian tahu ? Kerusakan alam yang begitu masif juga dipengaruhi oleh pendidikan ? Itu ada hubungannya dengan dominasi budaya yang saya sebutkan di isi artikel ini. 
Begitulah kerja pendidikan sebagai sarana dominasi (hegemonik). Semakin tidak mutunya pendidikan menandakan bahwa demokrasi kita masih “sakit.”

Referensi
Yudhistira, Aria. W. Kamis, 2 Mei 2013. Anak-Anak Orde Baru dan Indonesia Sekarang. Dipublikasikan oleh Etnohistori.org. http://etnohistori.org/anak-anak-orde-baru-dan-indonesia-sekarang-esai-oleh-aria-wiratma-yudhistira.html

Karl Maks dan Definisi Cinta Yang Centil 

Yang paling mengganggu perihal Karl Marx buat saya, sebenarnya bukan pada hujatannya terhadap agama. Karena memang kondisi objektif pada saat itu agama dipakai untuk mengilusi, kekuatan “proletariat” dalam istilah Karl Marx. Bukan juga pada teorinya tentang kediktatoran proletariat, walau harus saya akui ini adalah sesuatu yang menyesakkan untuk bisa menyepakati klaim Karl Marx bahwa sosialisme dia adalah “sosialisme ilmiah”

Tapi bukan itu, bukan. Bukan pula terletak pada poin Karl Marx yang telah disepakati oleh banyak pihak bahwa dunia bisa diubah. “Man makes his own history”, karena pada saat itu Karl Marx katakanlah telah “menemukan” cara membaca sejarah berdasarkan pengetahuan tentang hukum-hukum objektif perkembangan masyarakat.

Sebagai seorang analis perkembangan sejarah, Karl Marx, harus saya akui, sangat berpengaruh. Sebelum teorinya muncul, sejarah yang terbaca di dunia hanyalah sejarah yang menari dengan ide-ide belaka, yang dipimpin oleh orang-orang besar, para agung dan para tokoh sejarah atau para demagog-demagog.

Tapi yang paling mengganggu buat saya ialah pada pernyataannya kalau “Cinta hanya dapat ditukar dengan cinta.” Kalau cinta hanya dapat ditukar dengan cinta, hal ini sudah jelas bahwa cinta dalam definisi Karl Marlx tak lebih dari cinta yang material belaka. Subyek yang membutuhkan obyek. Hingga pada titik tertentu, cinta menjadi semacam kalkulus yang akan selalu berbicara untung dan rugi. Atau mungkin Karl Marx sebenarnya sedang merancang materialisme historis cinta, serta mencari tahu apa yang membuat hal itu lucu.

Saya sepakat bahwa pikiran akan lebih cermat dan tangkas bekerja ketika kita jatuh cinta. Terkadang pertanyaan dan duga memberinya satu seremoni personil yang luhur. Walau terkadang hubungan yang melaju dengan segala ikatan, kewajiban, dan kepastian lebih banyak menumpulkan kerja pikiran, membuat manusia lumpuh dan rapuh atau malah kadang (maaf) dungu.

Oleh karena itu, merupakan sesuatu yang tidak perlu diperdebatkan lagi jika pada akhirnya para marxis ortodoks telah menjadikan materialisme historis sebagai suatu metode yang dogmatis, menjadikannya sebagai “formula pasti” yang mencoba memaksakan segala sesuatu menjadi bentuk-bentuk yang dapat dengan mudah diperkirakan dan diyakini.

Hal inilah yang saya kira justru akan menjadi muara kelemahan manusia ketika berhadapan dengan keabsurdan hidup dan ketidakpastian, manusia pada akhirnya akan terus mencoba nyaman dengan kepastian-kepastian meskipun itu hanya khayalan dan menolak hidup tegar menjalani pilihannya meski tak pernah ada jaminan semuanya berjalan sesuai dengan harapan. Kalau segala sesuatunya sudah pasti betapa tidak “lutju”nya dunia ini.

Mari kita lupakan Karl Marx, karena hemat saya sungguhlah cinta tak meski demikian. Kau dan aku juga harusnya tahu, bahwa genggaman tidak selamanya menyelamatkan apa yang sejatinya retak. Sekali pun engkau dan aku akan mencoba memutuskan urat nadi, tidak akan membuat yang beda menjadi sama, kok. Ia tetap akan menjadi garis di batas keinginanan, percayalah.

Kau dan aku harusnya tahu, kadang kemampuanmu untuk menyayangi dan merindu itu memupuk sejumlah energi yang setimpal untuk terus membenci kemudian. Meskipun kita tidak akan pernah percaya, betapa manusia yang tanpa duga dapat dengan tekun saling menyayangi, dapat pula saling melukai secara keji. Kalau demikian, alangkah lebih arifnya kalau cinta tak harus memiliki, seperti apa yang dilantunkan oleh Ecoutez.

Iya, dalam pembahasan ini saya akan mencoba sepakat dengan Ecoutez (grup musik yang dibentuk pada pertengahan 2002). “Percayalah kasih, cinta tak harus memiliki” adalah kalimat yang saya ambil dari salah satu lirik lagu Ecoutez (terdengar risih mengalun dari kosan sebelah). Benar-benar kalimat yang indah, murni estetika.

Cinta memang tak harus memiliki, karena cinta hanya untuk cinta itu sendiri, bukan untuk dicintai njelimet. Tapi sayang, kalimat yang indah tersebut menjadi terdakwa di hadapan media massa yang terus mengulang pemberitaan mengenai beberapa pembunuhan yang didasari oleh kecemburuan (cinta) sebagai motifnya.

Entah mengapa media massa di negeri kita ini kok tak kunjung belajar untuk menjadi sedikit lebih pintar. Dengan alih-alih mengungkapkan pernyataan “cinta merenggut maut”, mereka sebenarnya sedang membuat relasi kuasa yang timpang dengan stereotipikal yang cacat terhadap cinta.

Kesalahan tidak sepenuhnya ada di media massa, karena yang ada dalam alam bawah sadar komunal, cinta haruslah memiliki. Hal ini berawal dari terlalu banyaknya manusia-manusia yang takut akan kesepian, tak terkecuali Karl Marx.

Maka mereka bawalah modal-modal kebisingan seperti: mulut yang bekerja menaklukkan nalar atau segala kegaduhan yang dipaksakan untuk mengaburkan keheningan dengan menyandangkan status “kekasih” hanya untuk memastikan bahwa dirinya baik-baik saja.

Lucunya, orang-orang juga nampak terlalu bebal untuk belajar, belum-belum memberi contoh pada generasi di bawahnya, bahwa hanya orang-orang menyedihkanlah yang dapat begitu depresi ketika tidak memiliki pasangan. Bagaimana mungkin ketika hanya rasa tidak nyaman yang kita miliki selagi berhadapan dengan diri sendiri, ada orang lain yang kita harap-harapkan dapat merasa nyaman terhadap diri kita ini?

Bukannya kesepian tidak akan menemukan keselamatannya di diri orang lain? Karenanya kedunguan yang tanpa dasar mengisi kemudian, bukan hanya para remaja yang menginjaki usia puber, tapi juga orang-orang berusia dewasa yang tak kunjung beranjak bijaksana. Padahal diri sendiri adalah kekosongan, sehingga setiap manusia lain yang lekat dalam hidup kita harus selalu tunduk dan menjadi milik diri sendiri.

Hanya orang-orang dengan kedunguan tanpa batas yang merasa kecemburuan sebagai pembenaran yang masuk akal untuk merenggut hak orang. Tidak ada yang manis dari posesivitas. Tidak ada yang manis dari kuasa yang timpang. Lucunya, masih banyak orang-orang dungu yang bertemu dengan orang dungu lainnya. bertemuan dan jatuh cinta. saling mengikat dan saling ketergantungan.

Saling kehilangan diri sendiri, karena baginya eksistensi terletak dalam kehadiran pasangannya yang sama kosongnya. Lebih parahnya lagi pasangan-pasangan banal dan dungu itu menikah, tentu dengan pertimbangannya yang dangkal, kemudian berhubungan seksual dengan segala ketimpangan peran dan kuasa di antara keduanya, dan mereka melahirkanlah anak. Anak-anaknya tumbuh dalam didikan yang sama banalnya.

Bayangkanlah berapa banyak orang yang merasa dirinya mulia dengan cinta yang omong kosong dan harus bertanggung jawab atas tumbuhnya para bajingan di kemudian hari. Intinya saya hanya ingin mengingatkan kembali pada satu dan banyak hal ketika kita berhadapan dengan ide-ide lama, dunia lama yang perlu di-redefinisi, tentang tata dunia baru yang memerlukan bentuk-bentuk perlawanan baru.

Bentuk-bentuk yang tidak membiarkan dunia lama mendefinisikan apa yang kita lakukan hari ini. Kita yang harus mendefinisikan dunia. Untuk tidak berhenti di buku-buku “kiri” atau teks-teks “suci” dan marilah kita mulai menjalani hidup yang seutuhnya.

GENERASI LEMAH 

فإن مع العسر يسرا إن مع العسر يسرا

Para ulama bahasa membuat kesimpulan, dua kalimat yang diulang-ulang yang terdapat pada ayat tersebut, menujukkan satu persoalan dan beribu solusinya, menunjukkan pula bahasa AlQur’an yang begitu dinamis, seakan zaman yang mengikuti AlQur’an, bukan AlQur’annya yang mengikuti zaman. 


Pada kata, العسر masalah persoalan kehidupan berbentuk makrifat (telah diketahui atau khusus) dan kata يسرا solusi persoalannya berbentuk nakiroh (bersifat umum dan belum diketahui). Artinya, para pemuda, khususnya generasi AlQur’an sangat dituntut saat terjun ke masyarakat kelak. Bahwa berbagai persoalan itu mesti mudah untuk diketahui, sedangkan beribu solusi yang seharusnya dimiliki, menanti untuk disajikan kelak di masyarakat.


Yang membuat kita tak habis pikir adalah. Kita : “umat terbaik yang dikeluarkan untuk umat manusia” berhenti pada situasi keterbelakangan dan penjajahan. Di pundak kita dibebani tanggung-jawab untuk memecahkan masalah umat, baik material maupun spiritual, sementara kondisi kita terlemahkan di bumi, tertindas. Kita seolah tak punya peranan lagi di dalam sejarah, setelah kita pernah menjadi pencipta peradaban, guru kemanusiaan dan mata air pengetahuan. Karena itu ayat suci:

 وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

“Dan kami menghendaki kemenangan orang-orang yang tertindas di bumi, dan menjadikan mereka para pemimpin dan pewaris”

Begitu menggugah kita. Ketertindasan kita di bumi membangkitkan kita menuju revolusi, sedangkan “pewarisan dan kepemimpinan” adalah cita-cita dan tujuan kita. 

SEMOGA SAKINAH MAWADDAH WA ROHMAH

“Semoga, Sakinah mawaddah wa rohmah (SAMAWA)” sebuah sebutan yang berawal dari percetakan undangan. “Rohmah” yang berarti kasih sayang Allah yang menyeluruh dan sudah pasti, bukan semoga, sudah ada, segalanya adalah rohmah Allah. Tumbuhnya tanaman dan munculnya buah yang tak seorang pun bisa menumbuhkannya, bisa berkecapnya bayi tak seorang pun mengajarkannya, manusia yang makan yang mesti buang airnya, tak perlu mesin atau apapun. Jadi rohmah adalah sebuah keniscayaan yang sudah pasti adanya, bisa disebut juga hukum alam. “Mawaddah” yang berarti rasa selalu ingin menyatu, itu pasti dan bukan semoga. Kalau manusia tak punya sifat demikian, buat apa menikah. Maka Allah telah memberi mawaddah untuk manusia, agar mau menikah. Rohmahnya disediakan oleh Allah untuk kehidupan sehari-hari, mawaddahnya ada dalam diri manusia sedangkan rohmahnya ada dalam ruang dimana manusia pergi kemanapun. Jadi Rohmah dan mawaddah itu sudah pasti, yang belum pasti adalah Sakinah. Sakinah berarti jinak, “kerasan”. AlQur’an menyebutkan لتسكنوا فيها dan لتسكنوا إليها, manusia dan alam semesta itu لتسكنوا فيها telah bertempat dan sudah “kerasan”, sudah permanen disini. Tapi, kalau dengan istri, bukan permanen, berjuang terus, bagaimana caranya tidak marah, tidak bermusuhan, dst. Maka bahasanya لتسكنوا إليها, jadi “menuju” bukan “didalam”, siang tidak Sakinah sore Sakinah, pagi tidak Sakinah malam Sakinah lagi, dst. Jadi suami dan istri itu terus menerus menuju Sakinah. Intinya, bukan “Semoga, Sakinah mawaddah wa rohmah”, karena alat untuk mencapai Sakinah adalah Mawaddah dan Rohmah, Mawaddah itu kompornya, Rohmah itu pancinya yang diisi terserah, isinya itulah Sakinah. Jadi, ucapan yang benar adalah “Mawaddah dan Rohmahlah, untuk semoga menjadi Sakinah” 

Seperti orang yang mendirikan warung, masakannya sudah pasti, menunya sudah pasti, modalnya sudah pasti, urusan laku atau tidak itu baru “Semoga..”. Menikah juga demikian, menikahnya sudah pasti, suaminya sudah pasti, istrinya sudah pasti, tapi harmonisnya dan suksesnya bersuami-istri itu bari di-“semoga”-kan. Tidak penting. Hanya soal penyebutan saja, yang berawal dari percetakan undangan. Kesalahannya adalah manusia terlalu setia dan menyangka, bahwa narasi adalah kebenaran pasti. Padahal tak mesti seperti demikian, dimensi yang berlipat ini menunjukkan, bahwa alam semesta tak sesempit yang dikira. Sang Maha Bijaksana memiliki keAsyikkan tersendiri saat bermesraan dengan makhlukNya

Kesalahannya adalah manusia terlalu setia dan menyangka, bahwa narasi adalah kebenaran pasti