Andalan

Pos blog pertama

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika ingin, Anda dapat menggunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai alasan Anda memulai blog ini dan rencana Anda dengan blog ini.

pos

Iklan

RINGKASAN KHUTBAH EDISI Ke – 14 Dr. KH. A. Musta’in Syafi’ie, M.Ag.

Tebuireng, 06 September 2019

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ إِحْسَـٰنًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ كُرْهًۭا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًۭا ۖ وَحَمْلُهُۥ وَفِصَـٰلُهُۥ ثَلَـٰثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةًۭ قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَـٰلِحًۭا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Masih dalam bahasan Q.S. Al-Ahqaf : 15, seperti edisi-edisi sebelumnya, edisi ini mungkin beliau lebih ingin memotivasi seluruh muslim khususnya juga para santri. Yakni tentang kehidupan yang berpatok pada ridho Allah, satu-satunya nominal umur yang disebutkan di dalam AlQur’an, produktivitas manusia diawali pada umur empat puluh, manusia belum bisa disebut manusia jika belum berumur empat puluh, dst., dst.

Bahwa ketakwaan atau mencari ridho Allah yang sebenarnya adalah saat melakukan segala sesuatu, tidak ada kata “nanti/masih ada waktu/sebentar/dsb.” karena perkataan demikian adalah perkataan yang menunda-nunda, termasuk bisikan iblis pula.

Beliau juga menyampaikan tentang pertanyaan seorang santri kepada beliau : “bagaimana caranya rajin..?/bagaimana caranya agar tidak malas..?/bagaimana caranya agar bisa sukses/dsb.” pertanyaan-pertanyaan demikian, itu tidak perlu dijawab dan memang tidak ada jawabannya “caranya rajin, ya rajinlah..!!/caranya tidak malas, ya jangan malas..!!/caranya sukses, ya sukseslah..!!” justru pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan itu adalah bagian dari mengolor-ngolor waktu.

Disamping itu juga, beliau mengambil perumpamaan tentang kisah seorang seorang khalifah/dinasti Umar Bin Abdul Aziz. Pada waktu itu sang raja mau mengadakan pertemuan kepada seluruh masyarakatnya, untuk menanggulangi masalah mereka yang didholimi, namun sang raja merasa kecapean dan sangat ingin untuk istirahat sebentar saja, putranya pun bicara “Ayah.. Ayhoo, katanya mau mengandakan pertemuan..!! Masyarakat sudah berkumpul semuanya di lapangan.. Cepat..!!” sang ayah pun menjawab “sebentar nak, ayah masih capek.. Ayah istirahat sebentar saja ya.. Beberapa menit saja..” sang anak pun menimpali lagi “ayah ini bagaimana, apakah ayah bisa menjamin dalam beberapa menit kedepan ayah masih hidup di dunia ini..?” sontak sang ayah langsung berdiri dan pergi ke tempat masyarakat yang berkumpul tadi, sambil berujar “iya nak, benar.. Tidak boleh ada rasa sedikit pun untuk menunda, karena demikian adalah bisikan syetan, selama sempat untuk melakukan.. Lakukan segera..!!”

Memang benar adanya, tidak ada jaminan untuk beberapa menit kedepan kita masih hidup, apalagi beberapa hari/minggu/bulan kedepan. Bahkan kita sebagai manusia selalu mencari alasan/pembenaran/pembelaan atas penundaan yang sebenarnya hanya senjata agar bisa terlampiaskan keinginan kita untuk bermalas-malasan, entah itu “masih ada waktu/nanti dulu/butuh waktu/sebentar/dsb.” seakan-akan yang menjamin hidup kita selama ini adalah ‘waktu’, seberapa istimewahnya waktu hingga kita lupa dengan Sang Maha Pencipta segala sesuatu.

Buanglah.. Buang kata-kata atau kalimat yang bersifat menunda-nunda itu.. Buang jauh-jauh..!! Tanpa ada sikap grusah-grusuh, dengan fikiran dan planing yang matang, selagi masih bisa dilakukan.. Kerjakan sekarang juga, atau tidak sama sekali..

Demikian bensin yang disiramkan beliau (ahli tafsir aktual yang terkemuka) kepada jama’ah jum’at yang notebene adalah seorang santri, khususnya santri baru. Agar lebih terbakar-terkobar semangat dalam melakukan segala sesuatu, karena kita dituntut dan dituntun untuk siap menjadi apa saja kelak di masyarakat. Jika dari muda sekarang saja sangat mudah untuk menunda-nunda waktu, maka bagaimana kelak saat terjun di dunia kehidupan yang nyata di masyarakat, khususnya saat umur empat puluh.

Jika menunda-nunda terus, maka kita sangat mudah punya rasa memudahkan dan dimudahkan (disepelekan), kita tengok agama sebelah, betapa luar biasanya saat mengerjakan pekerjaannya secara totalitas. Padahal kita punya Sang Maha Pencipta, Sang Maha Mengatur segala sesuatu, namun kita terlalu terlena dengan itu semua.

Semoga bermanfaat dan bisa menggugah hati kita semua, umumnya bagi seluruh umat muslim semua dan khususnya bagi bagi kalangan santri itu sendiri.

LALAT YANG CEREWET

“Tuan gajah, kami sekeluarga bermaksud pindah ke telingamu. Tolong di pertimbangkan, apa kami bisa pindah atau tidak!?” tutur lalat.

Gajah yang bahkan akan kehadiran si lalat hanya bersikap tenang2 saja, hingga setelah menunggu seminggu, lalat pun masuk ke telinga gajah, karena yakin bahwa si gajah pasti tidak keberatan.

Sebulan kemudian ibu lalat berpendapat, bukan tempat yang sehat untuk hidup dan mendesak suaminya untuk keluar. Suami lalat minta kepadanya agar sabar dulu, tetap tinggal sekurang2nya satu bulan, sebab ia tidak mau menyinggung perasaan si gajah. Akan tetapi, istri lalat terus memaksa. Akhirnya, ia mengatakan dengan hati2, “tuan gajah, ngapuntrn, kami bermaksud pindah ke tempat lain. Tentu saja ini bukan karena anda, telinga anda sungguh luas dan hangat. Ini hanya karena istriku lebih senang hidup di kaki kerbau dengan teman2nya. Kalau anda keberatan kami pergi, tolong beritahu kami”.

Sang gajah kembali tidak menghiraukan dan lalat pun pindah rumah dengan hati tenang.

HIKMAH

Perpindahan berlangsung dari tahun ke tahun, tapi alam seakan tidak menggubris proses perpindahan tersebut. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan dan tahun terus berputar, alam seakan seperti gajah dalam ilustrasi tersebut seakan tidak tahu dan tidak mau tahu.

Manusia yang terkadang berubah-ubah dalam merespon suatu peringatan (hari besar). Ada yang penuh rasa syukur dengan mendo’akan pendahulu-pendahulunya dengan washilah istighosah dan khotmil quran, ada yang penuh dengan sorak-sorak menyanyikan lagu-lagu favorit, ada yang dengan mekukan hal yang sama di rasakan oleh pendahulu-pendahulunya demi menghormati dan tau apa yang mereka rasakan demi merebut kemenangan ini, ada pula yang diam saja terlelap dalam buaian kenikmatan semu mumpung libur. Di pihak lain, begitu banyak orang yang duduk dalam keheningan untuk melihat dengan jernih seraya mengharap bimbingan Sang Maha Kuasa.

Itulah sebabnya, bukan perayaannya yang penting, tapi bagaimana setiap manusia memulai menata ulang sikap mentalnya untuk memasuki keadaan yang baru. Bahkan, setiap orang mampu merayakan “perayaan yang baru” dengan ungkapan syukur karena ia berhasil mengubah cara berfikir, sikap, dan tingkah lakunya.

Peristiwa yang baru bermakna menemukan jati diri yang sesungguhnya tentang makna kehidupan dan arti hidup. Harus berbuat apa kita setelah melalui peristiwa besar ini.

*sumber: pensyarahan dari buku “sikap dan cara pandang profesionalis”

BERKURBANLAH UNTUK MERDEKA, MERDEKALAH KARENA BERKURBAN

Bulan Agustus. Bulan penuh riuh gema takbir, penuh dengan suasana pengorbanan manusia sebagai seorang hamba. Betapa tidak, Nabi Ibrahim yang dijuluki Kholilullah, ternyata sangat kental dalam sisi kemanusiaannya, menanyakan terlebih dahulu kepada sang anak meskipun itu adalah perintah dari Allah sendiri. Respon dari sang anak pun tak kalah menarik, saling pengertian dan suasana harmonis begitu terasa pada waktu itu.

Seluruh agama pasti ada tradisi yang dinamakan berkurban, dalam Islam sendiri disiasati dengan berkurban untuk kemashlahatan manusia sendiri, dengan membagikan daging-daging ke seluruh pelosok desa khususnya bagi mereka yang tidak mampu, umat Islam pun diharamkan untuk tidak berpuasa demi menghargai sesamanya. Tidak hanya itu, berkurban dalam ruh dan hati tidak kalah pentingnya, justru itu adalah tujuan utama dari kata berkurban itu sendiri. Mengorbankan waktu, tenaga, pemikiran, harta dan segala yang dicinta untuk menemukan hakikat cinta yang sebenarnya, yakni kepada Sang Maha Pengasih dan Penyayang yang sebenarnya.

Di tahun 2019 ini, bertepatan dengan bulan Agustus juga bersamaan dengan perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-47, menunjukkan dunia yang semakin tua, bangsa yang semakin terbungkuk dan akhirat yang semakin angkat dagu. Merupakan tema yang tidak bisa dilewatkan, di dalam satu bulan terdapat dua momentum besar agama dan bangsa, terharu ruh dan hati, terbakar jiwa dan raga, menuntun dalam simponi kedamaian, menuntut lebih kental dalam budaya kemanusiaan.

BERKURBAN untuk MERDEKA dan MERDEKA karena BERKURBAN adalah slogan yang tepat, khususnya bagi kalangan santri dan umumnya bagi umat Islam yang berwarga-negaraan Indonesia. Santri yang dituntut untuk siap menjadi, menjadi apa saja, bukan hanya menjadi ulama’, bukan hanya menjadi Kiai, bukan hanya pintar Kitab dan AlQur’an saja. Namun juga lebih dari itu semua, pintar dalam berpotensi, pintar dalam berpolitik, pintar dalam berdiplomasi, pintar dalam sosial, pintar dalam kemanusiaannya dan pintar dalam segala bidang kehidupan di dunia maupun akhirat. Yang kelak saat terjun ke masyarakat, akan disebut dengan kata MERDEKA..!!

Namun, semua itu bisa dicapai dengan cara BERKURBAN. Santri yang mengurbankan hati, jiwa, raga, tempat, waktu dan segala suasana yang menyelimuti sebelumnya. Mengurbankan hati yang rindu dengan orang tua, jiwa yang ketakutan akan masa depan, raga yang terasa tersiksa dan terpaksa, tempat yang jauh dari kampung halaman, waktu yang seharusnya dihabiskan bersama keluarga dan teman sebaya, serta suasana yang pilu dengan lingkungan yang ada di rumah.

Begitu pula umat muslim, berkurban puasa, berkurban tenaga, berkurban dana, berkurban mental, dsb. Berkurban juga bisa diartikan dengan kata sabar, sabar yang dibagi menjadi dua, “sabar dari” dan “sabar untuk” sabar dari segala segala bencana dan sabar untuk melakukan segala sesuatu dengan maksimal.

Dua momentum ini (BERKURBAN dan MERDEKA) juga mengajarkan kita untuk mengerjakan dan melakukan segala sesuatu hanya dari jerih payah diri kita sendiri, mengajarkan kita untuk lebih mandiri. Bahwa segala sesuatu itu akan terasa lebih indah, saat keringat kita yang menjadi saksi atas usaha yang kita lakukan. Bahwa kadang kita juga merasa tersenyum dan bahagia itu bukan karena hasilnya, tapi karena usahanya.

Selain itu, keikhlasan murni (atau bisa disebut : “sabar untuk”) yang kini sedikit demi sedikit terkikis oleh zaman kapital, dimana segalanya tak ada jika tak keluar dana, segalanya tak bisa jika tak bisa lebih uangnya, segalanya selalu harus ada harga, harta dan dana.

Termasuk logika Weekend/rekreasi/hari libur (dimana orang yang ingin bebas dan beristirahat) adalah hasil dari masyarakat kapitalis (hasil dari peristiwa RENAISSANCE/pencerahan eropa/perang dunia II), ketika orang dipaksa kerja/belajar tanpa passion, dengan target cari uang/pengakuan, demi kebutuhan-kebutuhan kapital yang sementara. Jadi kita tidak menikmati, padahal kerja/belajar itu harusnya eksistensial, dengan kerja/belajar kita merasa ada, merasa dibutuhkan dan membutuhkan, merasa jadi manusia yang sebenaranya, karena kita menghasilkan sesuatu. Tapi di masyarakat kapital, kita tidak menikmati pekerjaan/pelajaran kita, karena kadang pekerjaan/pelajaran itu tidak berhubungan dengan eksistensi kita, targetnya cuman cari uang dan pengakuan. Akhirnya kita tersiksa, kompensasinya kita sangat senang cuti, sangat senang hari libur, sangat senang rekreasi, dst.

Seharusnya bagi umat muslim sendiri, khususnya bagi kalangan santri, tidak ada yang dinamakan hari libur, lalu pulang kemudian rekreasi dengan alasan “di pondok capek/mumpung di rumah” saat di rumah menjadi pelampiasan, sangat-sangat kapitalis, begitu tiruan dari agama sebrang. Padahal yang dilakukan di Pondok Pesantren itu adalah bekal untuk di rumah/di masyarakat, kenapa tidak dicicil sedikit demi sedikit untuk membiasakan kebiasaan baik dari Pondok Pesantren, agar kelak saat terjun ke masyarakat tidak terlalu kaget dan minder saat dihadapkan dengan segala permasalahan yang ada.

Begitulah kiranya, layaknya bapaknya para Nabi, bersandangkan gelar kekasih Allah, penuh rasa kemanusiaan, tanggung jawab dan lebih-lebih dedikasi pengabdiannya, kepada masyarakat, umat, keluarga, hingga kepada Sang Maha Kuasa. Beliau Nabi Ibrahim AS. menjadi uswah teladan yang begitu menggugah, tanpa mengenal kata bekerja, segalanya hanya murni mengabdi semata, begitu pula kita, jika belajar dan bekerja itu diganti dengan kata mengabdi jua, segalanya akan terasa ringan, tanpa beratnya beban, tanpa rasa inginnya liburan, serta selalu ingin mendekat dengan AlQur’an.

Berkurbanlah untuk merdeka, kurbankan segalanya, segala yang kita sukai dan kita cintai, bertekadlah untuk menyembelih semuanya..!!! Bertekadlah untuk membunuh semua..!!! Niscaya tekad untuk membunuh rasa apa yang kita cintai itu, akan diganti oleh Sang Maha Pemberi Rasa lebih dari apa yang kita cintai, kelak saat terjun ke masyarakat. Layaknya Ismail kecil yang digantikan oleh domba dari surga.

Merdekalah karena berkurban, bersabarlah dan ikhlaslah dalam segala usaha dan i’tikad. Singkirkan sejenak idéologi “Hasil tidak akan menghianati usaha” karena ideologi tersebut menanamkan dalam hati kita untuk selalu tergiur dengan hasil. Buat apa..?? Buat apa kita menikmati hasilnya..?? Sedangkan kita lebih bisa menikmati usahanya, lebih terkesan dan lebih membuat bahagia. Nikmati usahanya dengan cara berusaha keras tanpa kenal lelah, hasil hanya urusan Sang Maha Bijaksana. Layaknya tanggapan Ismail kecil yang ditanyai bapak tercinta soal pendapat akan mimpi bapaknya.

(فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡیَ قَالَ یَـٰبُنَیَّ إِنِّیۤ أَرَىٰ فِی ٱلۡمَنَامِ أَنِّیۤ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ یَـٰۤأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِیۤ إِن شَاۤءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِینَ ۝ فَلَمَّاۤ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِینِ ۝ وَنَـٰدَیۡنَـٰهُ أَن یَـٰۤإِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ ۝ قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡیَاۤۚ إِنَّا كَذَ ٰ⁠لِكَ نَجۡزِی ٱلۡمُحۡسِنِینَ ۝ إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَـٰۤؤُا۟ ٱلۡمُبِینُ ۝ وَفَدَیۡنَـٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِیمࣲ ۝ وَتَرَكۡنَا عَلَیۡهِ فِی ٱلۡـَٔاخِرِینَ ۝ سَلَـٰمٌ عَلَىٰۤ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ ۝ كَذَ ٰ⁠لِكَ نَجۡزِی ٱلۡمُحۡسِنِینَ ۝ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِینَ ۝ وَبَشَّرۡنَـٰهُ بِإِسۡحَـٰقَ نَبِیࣰّا مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِینَ)

Akrab tapi Tak Menginspirasi

Tak setiap keakraban dengan pembina menjadikan anak memiliki rasa hormat dan keterikatan hati yang sangat kuat. Sering bertemu, bahkan menikmati waktu senggang bersama, tidak dengan sendirinya menjadikan anak tergugah oleh keyakinan pembina. Benci sih tidak, tetapi anak tidak menyerap apa yang menjadi sikap, pendirian dan idealisme pembina. Bukan karena pembinanya tidak baik, bahkan boleh jadi pembinanya sangat baik, tetapi pembina tidak secara sengaja menanamkan prinsip hidup (principles for living) dan keyakinan. Pembina juga tidak mendorong anak mengambil keputusan hidup secara mandiri.

Ada perbedaan yang kadang tampak tipis, tetapi sebenarnya berbeda jauh antara memberi kepercayaan kepada anak untuk mengambil keputusan hidup secara mandiri dengan membiarkan anak mengambil keputusan dalam berbagai urusan hidup, bahkan hingga yang sangat penting. Pembina yang memanfaatkan waktunya bersama anak untuk menanamkan prinsip hidup, keyakinan yang kokoh beriring dua hal, yakni membangun hubungan yang sangat dekat (bukan sekedar akrab) antara anak dan teman-teman(bukan hanya dengan pembina) serta menumbuhkan sikap hormat kepada pembina, akan mendorong anak untuk menuju masa dewasa tanpa perlu mengalami krisis di masa-masa peralihan.

Bukankah masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak? Tidak. Ada remaja yang dipenuhi gejolak, krisis identitas tak henti-henti mendera bahkan hingga masa yang seharusnya sudah dewasa seutuhnya. Tetapi ada remaja yang tidak perlu mengalami krisis identitas, tak merasakan keguncangan keyakinan. Justru di masa-masa ini anak semakin kuat idealismenya terhadap apa yang diyakini dan diimaninya.

Apakah idealisme itu? Keyakinan sangat kuat yang melahirkan dorongan untuk mewujudkan apa yang menjadi keyakinannya.

Keyakinan. Bukan sekedar pengetahuan, meskipun sangat luas. Ini menunjukkan bahwa yang diperlukan oleh pembina adalah menanamkan keyakinan. Bukan sekedar mengajarkan pemahaman tentang keyakinan. Jalan yang memudahkan pembina menanamkan keyakinan adalah kedekatan emosi antara anak dan pembina (emosi, disini bukan berarti kemarahan. Tapi rasa kedekatan). Tak sekedar akrab. Bukan berarti akrab tak penting. Sangat penting, bahkan. Tanpa keakraban, anak cenderung tak memiliki rasa terhadap pembina. Jauh tak dinanti, dekat tak membahagiakan hati. Bukan berarti yang sangat jarang bertemu pasti tak ada kedekatan hati. Tetapi sekedar sering bertemu tidak dengan sendirinya membentuk ikatan batin yang kuat.

Maka jangan heran jika pembina sering mengajak anak berkumpul atau makan bersama, tetapi anak tetap tidak menjadikan pembina sebagai sosok panutan yang didengar kata-katanya. Di satu sisi anak senang bersama pembina dan ingin menghargai sehingga mereka pun ingin membuat masalah dengan pembina. Tetapi dalam berbagai hal, anak-anak itu dapat mengalami pertentangan dengan pembina. Mereka berselisih jalan, berbeda pandangan dan berbenturan sikap.

Anak-anak seperti inilah yang ketika memasuki usia remaja akan cenderung mengalami krisis identitas. Komitmen mereka lemah atau tidak memiliki komitmen sama sekali. Mereka dapat termotivasi untuk meraih sukses, tetapi kerap beriring dengan kegalauan yang tinggi. Inilah anak-anak yang rawan.

Lalu apa yang diperlukan keakraban kita menumbuhkan kedekatan emosi dengan anak? Apa yang kita perhatikan agar saat-saat bersama bersama menjadi waktu yang senantiasa dinanti penuh rindu? Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Pertama, menjadikan waktu kita bersama mereka sebagai waktu yang berkualitas. Apa ukurannya? Ketergugahan anak (engagement) di saat ia bersama pembina, melakukan kegiatan bersama. Bukan sekedar terlibat aktif (involvement). Apalagi hanya turut bersama-sama, duduk bersama-sama atau pun sama-sama makan di kegiatan yang disebut makan bersama.

Cukup? Tidak. Remaja tidak mengalami krisis semenjak awal masa remaja hingga memasuki masa dewasa, erat kaitannya dengan pengalaman dibesarkan oleh pembina yang mengarahkan anak secara sadar tentang prinsip-prinsip hidup (principles for living) dan keyakinan. Artinya, pembina sengaja menciptakan kesempatan untuk berbincang dengan nyaman dan hangat mengenai hal-hal penting dalam hidup. Ini bisa melalui suasana santai, tetapi pembina secara sengaja dan sepenuh sadar menanamkan prinsip hidup maupun keyakinan kepada masa depan.

Apakah ada pembina yang tidak secara sengaja menanamkan prinsip hidup? Banyak. Sangat banyak bahkan. Boleh jadi karena kurang peduli, boleh jadi pula karena menganggap contoh yang ditunjukkan oleh pembina telah cukup. Pembina baru menasehati warganya panjang lebar apabila terjadi kesalahan. Itu pun beriring kemarahan. Tanpa rifq (kelembutan dan keramahan), tanpa hilm (kelembutan yang menjadikan seseorang mampu menahan diri). Ini justru membuat nasehat tidak berbekas. Apalagi jika pada saat seperti itu, pembina pun tidak menjelaskan dengan jernih dan memadai.

Pembina kerap merasa telah menanamkan keyakinan, atau menganggap anaknya telah memahami hal-hal yang harus dipegangi dalam hidup, padahal anak tidak merasakannya. Bahkan boleh jadi anak tidak tersentuh sama sekali oleh prinsip-prinsip yang sangat diagungkan oleh pembina.

Sebagian pembina merasa telah memberi sebaik-baik pendidikan dengan memberikan “contoh nyata” kepada anak. Padahal teladan bukan hanya soal apa yang kita tunjukkan. Teladan juga berkait dengan apa yang dilihat dan dirasakan oleh anak sebagai hal penting bagi pembina. Ia melihat pembina senantiasa memperjuangkan sekaligus ia sering mendengar (hear) maupun mendengarkan (listen) dari pembina mengenai hal tersebut. Pembina meluangkan waktu bagi anaknya untuk menjelaskan dan menanamkan. Menjelaskan itu berhubungan dengan pemahaman, sementara menanamkan itu lebih mendasar lagi, yakni berkait dengan keyakinan.

Remaja yang mengalami krisis identitas diri sangat serius sehingga mudah terombang-ambing, mudah pula terpengaruh oleh hal-hal buruk semisal “mokong” ataupun melanggar aturan, umumnya berasal dari latar belakang pembina yang abai dengan penanaman keyakinan. Mereka sering berkumpul bersama, makan bersama atau sama-sama duduk di aula kamar menikmati jajanan. Tetapi anak-anak itu tidak memiliki ikatan emosi yang kuat. Mereka dapat menghargai pembina dalam sebagian urusan, tetapi bertentangan keras dalam berbagai hal lainnya. Pembinanya boleh jadi orang yang baik, sangat baik bahkan, tetapi kebaikan itu tidak menggugah anak untuk menirunya. Ia tidak melihat pembina sebagai sosok yang patut dibanggakan, sekurang-kurangnya dalam soal mendidik anak.

Luangkan Waktu, Bukan Sekedar Punya Waktu

Belajar seharian di pondok membuat anak capek. Ini tidak masalah asalkan anak tidak kelelahan secara mental. Capek itu obatnya istirahat. Atau sekedar mandi dan duduk rileks, sudah cukup untuk menghalau rasa capek. Di saat seperti itulah, kehadiran pembina justru sangat penting. Hadir ketika anak sedang memulihkan penatnya membuat anak merasa dicintai. Perasaan inilah yang menumbuhkan rasa hormat. Sementara ketaatan akan lebih mudah muncul saat rasa hormat itu membekas kuat dalam diri anak. Di saat-saat seperti itulah kita dapat menanamkan sikap hidup dan keyakinan yang kuat melalui nasehat ringkas di sela-sela bincang dengan mereka. Jadi, bukan menghujani mereka dengan nasehat yang anak tahu kapan nasehat itu akan berhenti.

Jika pembina memberikan umpan balik kepada anak terkait kegiatannya di pondok atau apa yang menjadi sikapnya, anak merasa dihargai. Anak termotivasi, meskipun pembina tampaknya tidak memberikan motivasi. Merasa didengarkan itu membangkitkan motivasi.

Sebaliknya jika pembina tidak berbicara kepada anak kecuali saat anak berbuat kesalahan saja, atau ketika pembina memerlukan bantuan semisal diambilkan air minum, maka dapat merasa mondok full kegiatan sebagai tempat pembuangan. Jika ini terjadi, anak mungkin bahagia di pondok, tetapi tidak menikmati kegiatan belajar. Anak hanya menikmati cara pembina yang atraktif saat menerangkan. Cueknya pembina juga dapat membuat kehilangan gairah belajar sehingga anak mudah mengalami kelelahan. Ini bukan karena beratnya beban belajar di lembaga, tetapi karena kurangnya dorongan.

***********************

Inspirasi dari kurang lebih setengah tahun, merasakan penatnya seorang pendidik dalam membentuk karakter yang cerah.

02 Juli 2018

Media Sosial dan Filsafat Moral

Hedonisme merupakan salah satu filsafat moral yang mungkin banyak dianut para pengguna media sosial secara tidak sadar. Kebahagiaan yang merupakan tujuan utama para kaum hedonis pun menjadikan media sosial lebih banyak berisi momen-momen kebahagiaan bagi para penggunanya.

Aristippos, murid Socrates, mengatakan bahwa kebahagiaan bersifat badani, aktual, dan individual. Artinya adalah manusia merasakan gerak, terjadi kini, dan di sini. Atau mungkin lebih singkatnya hedonisme adalah kesenangan yang didapatkan dengan cara dirasakan oleh panca indera.

Banyak yang mengira bahwa konsep hedonisme adalah hanya menghambur-hamburkan uang untuk sekedar berbelanja atau pergi ke tempat makan atau tempat wisata agar bisa memperoleh kebahagiaan.

Sebenarnya tidak hanya itu. Manusia memiliki cara masing-masing dalam memperoleh kebahagiaan. Selagi kebahagiaan itu didapat dan dirasakan melalui panca indera, itulah hedonisme.

Dalam hedonisme, Aristippos menegaskan bahwa perlunya pengendalian diri dalam kesenangan. Bukan berarti harus meninggalkan kesenangan, tetapi mempergunakan kesenangan dengan baik dan jangan sampai membiarkan diri terbawa olehnya dengan cara mengendalikannya sesuai dengan kehendak diri sendiri.

Jika bicara filsafat moral, selain Hedonisme, ada pula yang disebut Eudemonisme, Utilitarianisme, dan Deontologi.

Aristoteles, penggagas Eudemonisme, mengatakan bahwa dalam tiap aktivitas manusia pasti memiliki tujuan akhir, yaitu kebahagiaan. Eudemonisme memiliki cara untuk memperoleh kebahagiaan, yaitu dengan cara menjalankan fungsinya dengan baik.

Tujuan terakhir pemain biola adalah bagaimana agar dia bisa bermain biola dengan baik. Tujuan terakhir guru adalah untuk mencerdaskan murid-muridnya. Jika manusia telah berhasil menjalankan fungsinya dengan baik, maka manusia akan mendapat tujuan akhirnya, yaitu kebahagiaan.

Utilitarianisme adalah bagaimana agar memperoleh kebahagiaan dengan cara mengedepankan prinsip kegunaan.

Suatu perbuatan dinilai baik jika dapat meningkatkan kebahagiaan sebanyak mungkin orang atau demi kepentingan orang banyak. Inilah the principle of utility (prinsip kegunaaan), yakni the greatest happiness of the greatest number (kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar) yang dikemukakan oleh Jeremy Bentham.

John Stuart Milll mengkritik Bentham. Menurutnya, kebahagiaaan perlu mempertimbangakn sisi kualitasnya juga. Baginya, ada kesenangan yang bermutu rendah dan ada yang bermutu tinggi.

Prinsip Mill yang patut dicatat adalah bahwa suatu perbutan dinilai baik jika kebahagiaan melebihi ketidakbahagiaaan, dimana kebahagiaan semua orang yang terlibat dihitung dengan cara yang sama.

Deontologi dicetuskan oleh Immanuel Kant. Menurutnya, yang baik adalah kehendak baik itu sendiri. Suatu kehendak menjadi baik sebab bertindak karena kewajiban. Penganut paham ini memandang bahwa kebahagiaan manusia didapat apabila manusia melakukan perbuatan sesuai kewajiban.

Salah satu hirarki kebutuhan yang dicetuskan oleh Maslow adalah kebutuhan akan penghargaan. Penghargaan yang paling tinggi ialah penghargaan terhadap diri sendiri yang dibangun dari pencapaian, self-respect, dan kebebasan. Sedangkan penghargaan yang paling rendah datang dari respek orang lain terhadap suatu pencapaian seseorang.

Dengan adanya media sosial, manusia menjadi lebih mudah untuk mendapatkan penghargaan. Terlepas apa paham yang dianut para penggunanya, tujuan menggunakan media sosial selain bersosialisasi dengan orang lain adalah untuk mendapat penghargaan atau pengakuan dari orang lain.

Penganut paham hedonis tentu saja akan banyak meng-share momen-momen ketika sedang berbahagia dengan panca indera yang mereka rasakan. Liburan, berbelanja, mendengarkan musik, menonton film, dan lain-lain.

Begitu pun dengan penganut paham Eudemonis, akan meng-share momen-momen kebahagiaan ketika telah berhasil melakukan fungsinya dengan baik. Penganut paham Utilitarian akan meng-share momen-momen kebahagiaan apabila telah melakukan perbuatan yang baik untuk kepentingan orang banyak.

Yang terakhir adalah Deontologi, penganut paham ini akan meng-share momen-momen kebahagiaan mereka apabila telah melakukan perbuatan sesusai kewajibannya.

Seperti seorang Presiden yang telah habis masa jabatannya. Apabila ia melakukan kewajibannya dengan baik, ia pasti akan merasakan kebahagiaan pada akhirnya.

Beda lagi dengan Presiden yang telah tuntas kewajibannya, tapi masih saja suka mengeluh dan curhat di media sosial. Mungkin perbuatan-perbuatan saat menjadi Presiden masih kurang baik.

Manusia memiliki kebahagiaan taraf tertingginya masing-masing. Namun permasalahannya, apakah setiap orang sempat memikirkan konsep kebahagiaan yang ia miliki secara lebih mendalam? Apakah konsep kebahagiaan yang ia pegang, sudah sungguh-sungguh membawanya pada kebahagiaan?

Minum Kopi sebagai Sebuah Fiksi

Ke mana pun Anda pergi mengunjungi kota-kota di seluruh dunia, pemandangan ini akan tampak menonjol: orang-orang duduk-dukuk santai di café, restoran, atau tempat lain, menikmati kopi, teh, atau minuman lain, tak mengerjakan apa pun kecuali ngobrol (kerap tanpa tujuan dan tema yang jelas), bersama orang-orang lain yang terikat dalam sebuah “camaradeship”, persahabatan.

Bahkan kegiatan santai-tak-bertujuan ini menjadi ladang bisnis besar di kota-kota modern. Perusahaan waralaba warung kopi dengan jaringan global seperti Starbucks, pada dasarnya, hidup dan meraup keuntungan besar dari kegiatan orang-orang yang ingin menikmati waktu senggang dengan duduk-duduk tanpa tujuan jelas ini. What a pathetic business!

Ribuan café, warung kopi, dan tempat-tempat “nongkrong” lain menjamur di seluruh kota di dunia untuk memenuhi life-style manusia modern ini. Kegiatan ini sering disebut “hanging out” (secara harafiah: gantung diri di luar). Kita menyebutnya di sini: nongkrong. Saya sering melakukan kegiatan ini, dan seraya nongkrong, selalu tertarik untuk memikirkan: dari mana asal-usul kegiatan yang menggelikan ini?

Kegiatan nongkrong tentu saja bukan monopoli masyarakat perkotaan. Di desa, kegiatan semacam ini sudah ada sejak dulu: orang-orang berkumpul, ngobrol santai di kedai kopi, membicarakan apa saja, mulai dari gosip desa, hingga percaturan politik di kota.

Tetapi kegiatan nongkrong di desa, sebagaimana dulu pada dekade 90-an, tak berlangsung dalam intensitas seperti yang saya lihat di kota-kota besar seperti Surabaya-Gresik, misalnya. Bahkan ada semacam persepsi, terutama di kalangan masyarakat santri di mana saya tumbuh, bahwa nongkrong bukanlah kegiatan yang dari sudut agama dipandang baik.

Dulu di pesantren, saya kerap mendapatkan petuah bahwa sebaiknya seorang santri menjauhi kegiatan yang sia-sia seperti nongkrong ini. Kegiatan ini, dalam pandangan masyarakat santri di kampung saya dulu, dipandang kurang baik karena cepat atau lambat akan berujung pada hal yang dilarang oleh agama: ghibah atau ngegosip — membicarakan hal-hal buruk mengenai orang lain.

Hingga sekarang pun, di kampung saya, kegiatan nongkrong belum merupakan pemandangan yang umum. Orang-orang masih cenderung memilih makan di rumah, menyantap masakan sendiri, ketimbang pergi ke warung untuk menikmati makan malam yang diikuti dengan ngobrol-santai-tanpa-tujuan seperti kita lihat di kota-kota besar.

Kalaupun makan di warung, mereka hanya duduk di sana beberapa saat saja sampai mereka selesai menyantap makanan, lalu pulang. Masih jarang saya melihat orang-orang menghabiskan waktu berjam-jam di warung makan atau kedai kopi. Kampung saya memang sangat didominasi oleh kultur santri. Saya kira, pandangan komunitas santri yang cenderung negatif pada kegiatan nongkrong, untuk sebagian, menjelaskan kenapa hingga sekarang kegiatan ini masih belum menjadi pemandangan umum.

Tetapi, merebak atau tidaknya kegiatan nongkrong, saya kira, terkait dengan konteks yang lebih luas. Bukan sekadar berhubungan dengan pandangan moralistik yang melihat kegiatan ini sebagai hal yang “morally inferior”. Kegiatan nongkrong hadir sebagai life-style baru di kota-kota besar karena terkait dengan corak ekonomi masyarakat urban, masyarakat modern.

Kemunculan nongkrong sebagai pemandangan yang massif di kota-kota besar Surabaya saat ini, setahu saya, belum terlalu lama. Saya menduga, ini terkait dengan makin membesarnya porsi kelas menengah di kota-kota besar kita sebagai akibat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup pesat sejak Orde Baru dulu. Kelas ini memiliki daya beli yang lebih baik, serta surplus penghasilan yang lumayan cukup untuk menikmati “leisure time”, waktu senggang, di warung-warung kopi.

Tekanan pekerjaan yang kian besar juga menjelaskan kenapa kegiatan ini muncul sebagai fenomena yang menonjol dalam masyarakat modern. Kegiatan nongkrong adalah cara kelas menengah melakukan relaksasi, mengatasi tekanan mental karena pekerjaan.

Tetapi ada segi lain dalam kehidupan masyarakat perkotaan yang bisa membantu menjelaskan kenapa nongkrong muncul sebagai gaya hidup yang dominan. Yaitu gejala orang-orang yang ingin menjalani kehidupan sebagai obyek kenikmatan estetis. Hidup dalam masyarakat urban-modern tak lagi dipandang sekedar sebagai keniscayaan belaka. Tetapi sesuatu yang secara estetis bisa dinikmati dengan pelbagai pilihan gaya hidup yang beragam.

Di kota-kota besar sekarang, kita mulai melihat gejala estetisasi atas kehidupan. Ia muncul dalam pelbagai ragam bentuk. Orang-orang tak sekedar ingin makan sebagai keniscayaan hidup untuk menghindarkan diri dari kelaparan yang mematikan. Mereka ingin makan dengan sebuah gaya – an eating with style.

Mereka tak sekadar ingin minum untuk menghalau haus, tetapi minum secara estetis. Mereka memilih minuman tertentu, dengan merek tertentu, yang memberikan kepada mereka sebuah fantasi tentang sesuatu yang lebih besar.

Apa yang ada di benak seseorang saat ia menenggak segelas kopi yang disajikan oleh warung waralaba global seperti Starbucks? Saat meminum kopi Starbucks yang rasanya tak terlalu spesial itu (masih lebih enak kopi buatan warung Jombang!), mungkin seseorang merasa telah menjadi bagian dari warga dunia. Dia tak sekedar minum kopi, tetapi ia minum kopi secara estetis agar menjadi bagian dari gaya hidup mondial. Ia minum kopi dengan sebuah fiksi!

Di masyarakat urban, tampaknya kehidupan dijalani bukan sekadar sebagai fakta saja, tetapi juga sebuah fantasi. Teori Ben Anderson tentang “masyarakat yang dibayangkan” (imagined communities) bisa kita pakai sebagai alat bantu analisis di sini. Gaya hidup estetis terjadi saat seseorang menjalani sebuah kehidupan seraya membayangkan bahwa ia menjadi bagian dari komunitas estetis tertentu yang berada dalam bayangan saja. A virtual life.

Saat seseorang memakai jam tangan, ia tak sekadar membutuhkan sebuah alat untuk menandai waktu. Ia, seraya memakai jam tangan merek tertentu, sebut saja Rolex, sedang membayangkan diri menjadi bagian dari kelas sosial yang menikmati gaya hidup estetis ini.

Produsen barang-barang modern, dengan cerdik, juga mencoba melayani kebutuhan akan fantasi estetik pada masyarakat modern ini. Jam Rolex, misalnya, menjajakan diri sebagai alat yang (seperti bisa kita lihat di iklannya) bukan sekedar menandai waktu (tells the time), tetapi juga mengisahkan sebuah sejarah – it tells the history.

Kemampuan manusia sebagai “fiction-making being” ini tampil dalam bentuknya yang sangat sempurna melalui kecenderungan estetisasi kehidupan dalam masyarakat urban sekarang.

Di warung-warung kopi seperti Starbucks, kita tak sekadar melihat makhluk-makhluk cantik dan ganteng yang sedang minum kopi, tetapi minum kopi dengan sebuah bayangan estetis tertentu di kepala mereka. Yang kita lihat sebetulnya adalah orang-orang yang sedang menyantap fiksi, bukan sekadar minum kopi.

Gejala estetisasi ini mengakibatkan munculnya gejala lian: kegiatan “menonton” orang-orang lain dari sebuah jarak – menonton orang-orang lain yang juga sedang menjalani kehidupan estetis yang sama. Ini bisa kita lihat dalam pemandangan seperti ini: orang-orang yang nongkrong di café, sambil mengamati orang-orang lain di sekitar, seraya mencari wajah-wajah yang “seemly”, enak dipandang. Menonton orang lain seraya nongkrong adalah tindakan yang pada dirinya mendatangkan rasa nyaman dan nikmat pada manusia-café.

Yang menarik adalah seraya seseorang memandang orang-orang lain, ia juga sadar bahwa dirinya juga menjadi sasaran pandangan orang lain. Dia sadar sebagai “seeing being” dan “being seen”, melihat dan dilihat sekaligus. Karena itu, setiap orang yang nongkrong pada dasarnya adalah performer, seorang penampil. Dia ingin tampil estetis, sebab ada subyek lain yang ingin melihatnya, menikmati kehadiran fisiknya.

Minum kopi dan nongkrong adalah gaya hidup masyarakat urban yang dalam dirinya terkandung sejumlah hal yang menarik. Ia mencerminkan gejala estetisasi kehidupan. Ia juga menjadi arena di mana orang-orang urban menumpahkan kegemaran yang nyaris pathetic untuk menjadikan segala hal sebagai obyek tontonan. Segala sesuatu, dalam masyarakat kota, adalah tontonan, spectacle. Dan setiap orang adalah spectator, penonton.

Kegiatan menonton dan memandang ini memicu lahirnya kesadaran tentang jarak dari realitas. Seseorang yang menjadikan segala hal di sekitarnya sebagai “tontonan” tak beda jauh dengan seseorang yang pacaran, tapi tak mau terikat oleh lembaga perkawinan. Seorang penonton tak ingin terlibat dan tenggelam terlalu mendalam di dalam obyek yang ia tonton. Dia tetap ingin menjaga dirinya sebagai spectator yang berada di sebuah kejauhan. Sebab terlibat terlalu jauh mengandung konsekuensi moral yang cenderung dihindari.

Ini, antara lain, yang menjelaskan sebuah pemandangan yang pathetic di mana seseorang melihat kecelakaan di jalan, lalu sibuk mengambil foto si korban, mengunggahnya di media sosial. Dia tak merasa perlu terlibat jauh dalam pemandangan yang sedang ia tonton itu dengan menolong si korban. Dia hanya cukup menontonnya.

Dia merasa cukup menyatakan “keterlibatan emosionalnya” dengan mengirimkan gambar di Facebook, Instagram, Twitter atau platform lain, sembari membubuhkan komentar emosional: Biadab sekali ya si penabrak orang itu! Komentar ini sudah cukup membuat dirinya merasa bahwa dia telah bertanggung jawab sebagai seorang manusia yang bermoral.

Tindakan menonton ini, di mata saya, kadang berujung pada pemandangan yang sangat janggal. Bayangkan pemandangan berikut ini. Sebuah grup keagamaan yang memeragakan sebuah ritual tertentu, misalnya pembacaan salawat Nabi, tampil di panggung teater, di hadapan ratusan penonton yang menikmatinya sebagai tampilan yang estetis.

Di kampung dulu, tak pernah ada seseorang menonton seseorang membaca salawat Nabi. Orang-orang terlibat dan tenggelam di dalamnya, bukan menontonnya. Menonton orang sedang membaca salawat sama janggalnya dengan orang yang pergi ke Mekah bukan untuk haji atau umrah, tetapi menonton orang-orang yang melaksanakan ritual itu.

Hanya dalam masyarakat urban saya melihat sebuah ritual keagamaan ditampilkan sebagai sebuah spectacle, sebagai tontonan, di hadapan pengunjung yang menikmatinya bukan seagai ritual yang melibatkan dirinya secara fisik dan mental. Tetapi sekedar sebuah tontonan yang ia lihat dari sebuah jarak.

The ethics of distance, etika memandang segala sesuatu dari sebuah jarak ini menandai gaya hidup baru di masyarakat urban. Semua orang cenderung menjadi “voyeur”, subyek yang melihat, dan melahirkan gejala voyeurism, kemenglihatanisme. Di warung kopi, kita menyaksikan gejala-gejala perkotaan ini tergelar dalam bentuknya yang sempurna.

HALAL BI-HALAL

Tidak ada tuntunan dasar dari syariat atau Islam itu sendiri memang, yang mengajarkan tentang halal bi-halal. Tuntunan tersebut bermula dari tradisi dan budaya yang didukung dengan pengambilan hukum dari kaidah ushul fiqh Al-Urf, atau bisa juga dari kaidah Mashlahah Mursalah.

Penulis tidak akan membahas lebih jauh tentang hukum yang menyangkut, karena blogger-blogger dan di google sudah banyak yang membahas hal tersebut. Yang perlu kita bahas adalah kebiasaan rancu yang perlu diklarifikasi kembali, dimana dari teori dan tindakan sangat terpandang kontra.

Kita kupas dari segi teori terlebih dahulu, bahwa halal bi-halal mempunyai arti muslim dituntut untuk menyelesaikan persoalan antar manusianya yang disebut hablumminannaas setelah selesainya persoalan dengan Tuhan yang disebut hablumminallah saat bulan romadhon kemarin. Berkumpul di satu forum, saling maaf-memaafkan, ramah-tamah dan saling tebar senyum kebahagiaan sosial yang damai dan tentram.

Yang membuat rancu dan aneh, kenapa tradisi tersebut dilaksanakan pada satu lingkup partai atau organisasi saja, yang notabenenya tidak terlalu banyak atau bahkan kesalahannya tidak ada (meskipun manusia tetap harus saling memaafkan meski tidak ada kesalahan atau bahkan tidak kenal sama sekali).

Partai golkar mengadakan halal bi-halal sesama dengan partai golkarnya, partai demokrat mengadakan halal bi-halal sesama dengan partai demokratnya, satu organisasi mengadakan halal bi-halal dengan sesama organisasi tersebut, satu lingkup mengadakan halal bi-halal dengan sesama lingkup tersebut, dst., dst. Itu namanya bukan halal bi-halal, tapi hanya sebatas temu kangen dan ramah-tamah saja.

Kenapa tidak mengadakan halal bi-halal antar partai, halal bi-halal antar organisasi, halal bi-halal antar lingkup. Dengan tujuan meng-harmonis-kan antar sesama partai, organisasi dan lingkup, karena sebelumnya telah bersaing dan terskat-skatkan oleh kata partai, organisasi dan lingkup itu sendiri. Memandang dari segi sesama manusia dan sesama muslimnya, yang begitu erat dengan hubungan persaudaraan yang begitu rekat.

Buat apa halal bi-halal, tapi masih ada rasa dendam, iri dan sinis dengan partai lain. Buat apa halal bi-halal, tapi masih ada rasa saling membandingkan dengan organisasi lain. Buat apa halal bi-halal, tapi masih ada rasa ingin menjatuhkan lingkup lain. Buang semua rasa tersebut dan saling tebar rasa tentram dan damai demi mashlahahnya Indonesia lebih nusantara lagi.

Memang benar perumpamaan Indonesia ini dengan makanan yang terasa nikmat karena persatuan campuran bumbunya, bukan satu bumbu atau satu tradisi saja. Tidak ada tahu campur, jika tidak ada bumbu kacang, lontong, tahu dan sayurannya. Tidak ada Indonesia, jika tidak ada jawa, sumatera dan sunda. Adanya persatuan perbedaan tersebut yang membuat menawannya bangsa dan budaya ini.

Begitu pula partai, organisasi dan lingkup yang ada di dalamnya. Memang penafsiran dari setiap personal manusia itu berbeda-beda, tapi setidaknya kita bisa memperbaiki peradaban yang sudah terlanjur ini, untuk jalan yang lebih mashlahah kedepannya, lebih harmonis keluarnya dan lebih damai serta tentram secara makna-rasanya. Terima kasih sebanyak-banyaknya dan mohon maaf sebesar-besarnya.

K E S A D A R A N

Seperti yang diungkapkan penulis dulu, bahwa bukan hanya kewajiban, bukan pula hanya kebutuhan, tapi masih ada level yang lebih tinggi lagi, yakni KESADARAN. Segala perilaku yang kita lakukan, jika tidak didasari dengan kesadaran, hanya kebutuhan apalagi kewajiban saja, maka akan terasa hampa dan sebatas tekanan hidup saja.

Dulu kita mendengar, bahwa “belajar itu bukan kewajiban, tapi kebutuhan” kalau kebutuhan, saat kita sudah merasa tidak butuh, maka tidak akan belajar lagi. Padahal setiap hari dan waktu dalam kehidupan ini kita harus belajar terus-menerus. Maka jawaban yang tepat, bahwa “belajar itu bukan kebutuhan, tapi kesadaran” sadar kalau kita memang harus terus-menerus belajar.

Kesadaran itu harus berkembang terus. Kesadaran merubah perilaku manusia, manusia berperilaku menurut tingkat kesadaran yang ada dalam fikiran dan hatinya. Simpelnya, seperti anak kecil yang tidak memakai pakaian kemana-mana dan tidak malu, kenapa yang dewasa kok malu ketika tidak memakai pakaian..?? Karena kesadarannya semakin meningkat dari saat kecil dan semakin besar. Seperti lagi orang yang pacaran dan akan semakin necis penampilannya saat bersama pasangannya. Demikian ini adalah terbangun karena adanya pandangan dari orang lain.

Selalu meningkat dan meningkat kesadaran manusia. Contoh lainnya, seperti saat kita mengingat-ingat status di Facebook beberapa tahun yang lalu, pasti perasaannya sangat memalukan dan menjijikkan, padahal saat membuat status rasanya itu adalah status yang paling indah saat itu. Kenapa..?? Karena kesadaran kita meningkat, pengetahuan kita lebih banyak dan berkembang.

Kadang, kalau tidak disadari kalau kesadaran kita meningkat, maka tidak akan berkembang kesadaran kita. Seperti yang kita lihat biasanya saat di jalan raya, kalau ada seorang memasang lampu sen ke kiri tapi beloknya ke kanan, kok bisa dia seperti itu..?? Dia tidak mengingat kesadaran bahwa jalan ini milik umum. Nah, perilaku manusia sama sekali berbeda kalau kesadarannya lebih lebar.

Kita tidak akan melakukan dosa kalau kita sadar besok kita akan meninggal dunia, makanya agama selalu menyadarkan kita untuk ingat akan kematian, agar dia tidak berbuat sesuatu yang akan dia sesali suatu saat nanti. Berkembang terus kesadaran ini, bahkan dari sudut pandang kesadaran, sabar itu berbeda.

Sabar itu tidak harus berarti diam, tapi sabar itu berperilaku paling tepat dalam suatu keadaan untuk kebaikan sebanyak mungkin orang dan dirinya sendiri. Kadang sabar itu harus diam daripada ribut, kadang juga sabar itu harus bersikap karena kita harus meluruskan permasalahan yang ada.

Semakin lebar ruang kesadaran, maka manusia akan memikirkan manusia yang lain. Bekerja dengan kesadaran mencari uang yang kita cari nomor satu adalah keuntungan, berbeda dengan kesadaran untuk memberi makan anak-istri nomor satu yang kita cari adalah rizki yang berkah, melayani dengan sepenuh hati dan tidak hanya keuntungan belaka. Sebuah kesadaran akan membuat perilaku yang sama sekali berbeda.

Makanya dalam jawa mengungkapkan “Ilmu iku kelakone kanti laku” karena saat kita menyadari, lalu kita lakukan setiap hari sampai kita tidak menyadari bahwa kita menyadari. Seperti kesadaran : “dalam hidup ini saya selalu diawasi Tuhan, saya tidak mau menyesal dengan hidup saya, maka saya harus melakukan segala sesuatu yang membuat Tuhan senang, seperti saya harus baik dengan orang lain”.

Awalnya demikian, disadari terus-menerus, tapi lama-lama ‘kelakon‘ sampai saya lupa bahwa itu datang dari kesadaran itu. Saya tetap baik karena memang saya orang baik, bukan karena alasan-alasan kesadaran tadi, itu hanya untuk awal kesadaran dari kelakone ilmu sampai menjadi ilmu yang laku. Ketika kita sekolah karena kita menyadari kalau kita mengorbankan sesuatu untuk masa depan sampai lupa kalau kesadaran sekolah kita itu demikian.

Tawadhu’, ta’dhim, hormat dan taat. Orang bersikap demikian, awalnya dia hanya ikut-ikutan orang lain, berkembang menjadi dia hormat karena orangnya terhormat. Lebih berkembang lagi, dia bersikap demikian itu bukan karena ikut-ikutan ataupun orangnya yang terhormat, tapi karena memang dialah yang bersikap demikian.

Seluruh dan segala apa yang kita lakukan itu didasari dengan kesadaran yang tiap detiknya berkembang terus-menerus tanpa henti, titik maupun koma. Kita juga harus menyadari pula, kalau kesadaran itu berkembang agar lebih luas lagi perkembangan peradaban yang ada pada masa yang penuh permasalahan hanya karena kesadaran yang berhenti dan stugnan.

ASUMSI DASAR MILENIAL MERUBUHKAN PERADABAN

Beribu-ribu sindiran di media sosial dan sosial itu sendiri, untuk mengingatkan pemuda khususnya generasi milenial. Dimana mereka yang acuh dengan terhadap manusia lain hanya karena sibuk dengan medianya. Tapi mereka (generasi) tidak memahami dengan seksama, apa maksud dari yang disampaikan, baik secara tulisan maupun lisan.

Mereka menganggap bahwa apa yang disampaikan merupakan larangan dan himbauan keras tentang apa yang mereka lakukan, dengan asumsi “seakan-akan” membuat hati dan fikiran mereka terasingkan dan menganggap bahwa yang menyampaikan itu sinis terhadap mereka dan tidak mau melihat mereka bermain ‘sosial media’.

Selain itu, kalimat dan ucapan tidak diserap menggunakan kaidah-kaidah manthiq, seperti majaz, dsb. Membuat anggapan mereka semakin kuat dan tidak terkendalikan, semakin sinis dan tidak percaya. Memang benar ungakapan “Hati-hati kepada mereka yang tidak kita percaya, bisa-bisa mereka lebih tidak percaya kepada kita”.

Misalnya : “Jangan bermain media sosial terus..!!” Apakah demikian itu bisa disebut larangan..?? Ataukah hanya anjuran keras untuk meninggalkannya..?? Atau malah hanya anjuran untuk menguranginya..?? Atau hanya bersifat sindiran dan tak ada maksud melarang sama sekali..?? Atau yang dimaksudkan hanya kepada yang merasa saja..?? Mana yang benar..!!??

Masih banyak asumsi yang muncul. Bukan tergantung pada yang mengucapkan maupun yang menuliskan, tapi tergantung pada sang pembaca. Seperti ungkapan : “Jangan membuang sampah sembarangan..!!” apakah yang mengungkapkan itu mengklaim bahwa semua orang yang membaca itu membuang sampah sembarangan..?? Tidak juga kan..!!

Jadi, muncul banyak premis yang tak bisa dikendalikan oleh sistem, karena sistem sendiri terlalu kaku dalam menanggapinya. Pembaca pun harus bisa menyerap dan ikut kritis dari apa yang dibaca dan didengar. Kritis disini bukan berarti sinis, tapi tetap lues hatinya dan luas fikirannga, agar tetap bisa tersampaikan maksud yang murni dari apa yang dibaca dan didengar.

Memang benar adanya. Sebaik-baiknya perkara ataupun penyampaian suatu hal, jika pendengar atau pembaca sudah menanamkan dalam fikiran dan hati hal yang negatif atau tidak percaya dan sangat sinis dengan yang menyampaikan, maka akan menjadi buruk sesuatu yang muncul dari fikiran maupun hatinya. Sebaliknya. Seburuk-buruknya perkara ataupun penyampaian suatu hal, jika pendengar atau pembaca sudah menanamkan hal yang positif dengan siapa yang menyampaikan, maka akan menjadi baik sesuatu yang muncul dari fikiran dan hatinya.

Makanya kepercayaan atas dasar dari apa dan siapa yang kita dengar dan kita baca itu sangat penting, demi tersampaikannya apa yang dimaksud dengan murni dan jernih. Baik yang menyampaikan itu seorang penjahat, maupun seorang kiai sekalipun, jika yang mendengar itu sudah menanamkan dalam fikiran sesuatu yang tidak pas dan pantas, maka hasilnya tak akan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Jebolan Pesantren Terkesan Kurang “Islami” Dibanding Kelompok Islam Baru ?

Seorang teman kuliah pernah menyampaikan pengamatannya tentang perbedaan alumni pesantren dengan lulusan pendidikan umum terkait penampakan identitas keislaman mereka di kampus. Kelompok yang terakhir disebut secara spesifik merujuk pada mahasiswa yang berafiliasi dengan organisasi dakwah atau yang tiba-tiba mengikuti “trend hijrah” setelah menginjak bangku kuliah.

Kemudian dia mengajukan pertanyaan kepada saya. Kira-kira begini, “Mengapa jebolan pesantren kalah islami dibanding kelompok hijrah-hijrah itu?”

Perlu segera saya sampaikan bahwa istilah “islami” dalam benak teman saya tersebut mengarah pada atribut-atribut serbareligius yang ditandai dengan semacam jilbab longgar panjang yang syari’ bagi yang perempuan, sedikit-sedikit berbicara agama dalam ruang publik (kadang menggunakan istilah-istilah bahasa Arab), lantang meneriakkan takbir dalam forum-forum resmi, dan seterusnya. Kebiasan-kebiasaan yang kurang diminati anak lulusan pesantren.

Pertanyaan di atas tentu tidak bisa lepas dari konteks sosial-budaya kehidupan rekan saya sebagai mahasiswa di kampus sekuler, bukan perguruan tinggi Islam. Atmosfer kampus sebagai sebuah arena interaksi sosial dari miniatur kehidupan masyarakat urban kelas menengah dengan komposisi mahasiswa yang cukup beragam. Ini penting ditekankan untuk memahami ruang lingkup diskusi ini muncul.

Sehingga, ketika pertanyaan itu harus dibaca bagaimana sekelompok mahasiswa dengan identitas islami tertentu kemudian mencolok ke permukaan sampai mencirikan sebagai sebuah pola kecenderungan umum yang berlaku. Tentunya sepengamatan teman saya. Ringkasnya, mengapa bukan kelompok pesantren yang paling getol menyuarakan nuansa islami yang kini sangat laku keras di pasaran?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, agar sedikit lebih objektif dalam kapasitas saya sebagai alumni pesantren, saya meminjam uraian Ariel Heryanto dalam buku “Identitas dan Kenikmatan” (2018), khususnya pada bab 2 (Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan) yang menyinggung fenomena meningkatnya kesalehan orang Indonesia akhir-akhir ini serta implikasi pertentangannya dengan kelompok yang telah mapan keislamannya, baik dari lulusan pesantren atau sekolah keagamaan lainnya.

Komparasi di antara keduanya kemudian coba ditelaah melalui ekspresi karya sastra populer yang mewakili kebudayaannya masing-masing.

Heryanto merujuk pada penelitian Musthafa (2008) yang membandingkan sastra kelompok “islami” dan “pesantren”. Sastra yang diwakili oleh kelompok islami getol mengumandangkan semangat islamisasi baru dalam produksi karya-karya mereka. Kelompok ini menghasilkan banyak karya, seperti film “Ayat-Ayat Cinta” yang merupakan usaha keras cendekia muslim menengah perkotaan.

Salah satu yang menandai karya kategori ini sangat kuat sekali menonjolkan simbol-simbol Islam atau bahkan simbol-simbol yang diislamkan. Lagi-lagi, “Ayat-Ayat Cinta” yang pertama (2008) menjadi contoh yang baik bagaimana dia menjadi pelopor film yang hampir semua pemainnya mengenakan jilbab.

Secara muatan ideologis, kelompok ini ingin melawan atau bahkan memerangi berbagai pikiran semacam hedonisme, sekularisme, dan lain-lain yang dianggap telah merenggut kesucian Islam di Indonesia. Komunitas yang paling populer adalah Forum Lingkar Pena (FLP) yang katanya berafiliasi dengan PKS sebagai supporter kemenangan sastra islami di pasaran.

Sebaliknya, kelompok pesantren dengan dua tokoh besar yang mewakilinya, yakni Abidah el-Khalieqy (penulis novel “Perempuan Berkalung Sorban”) dan Ahmat Tohari lebih banyak menguak persoalan yang lebih subtantif dibanding dengan memoles nuansa islami seperti yang ditekankan kelompok FLP. Mereka lebih menitikberatkan pada nilai kebebasan manusia dan politik yang inklusif.

Mengapa representasi karya sastra yang dipergunakan untuk memberikan penjelasan terhadap perbedaan alumni pesantren dengan gelombang islamisasi baru? Sebab, melalui karya sastra, kita dapat mendapatkan gambaran yang mewakili dunia masing-masing. Suatu karya pasti tidak lepas dari latar belakang pengarang dan nilai yang ingin diperjuangkan.

Dari situ kita bisa menangkap bahwa perbedaan mencolok dari kehidupan pesantren dalam domain publik tidak terlalu mengurusi persoalan semacam nilai-nilai simbolik, melainkan lebih menekankan pada aspek substansial yang ingin diperjuangkan.

Selanjutnya, masih menurut Heryanto yang mengutip penelitian Nancy Smith-Hefner, menyatakan bahwa terdapat perbedaan antara perempuan dari dunia pendidikan sekuler yang tiba-tiba menjadi sosok muslimat bertakwa dengan perempuan lulusan pesantren malah menjadi aktivis feminisme.

Kelompok islami biasanya masih membutuhkan pengakuan eksistensial di depan umum karena merasa belum tenang dengan keimanannya. Sedangkan perempuan pesantren, karena merasa sudah tenang dengan keislamaan diri mereka, lebih banyak berbicara hal lain, seperti pluralisme, kesetaraan, dan seterusnya.

Di sini jelas, lulusan pesantren biasanya tidak terlalu membutuhkan aktualisasi diri melalui seperangkat pernak-pernik keislamaan yang menonjol. Mungkin, menurut saya, masa-masa seperti itu telah lewat di belakang kenangan ketika masih nyantri dulu.

Lulusan pesantren yang tidak terlalu tertarik mengikuti perkembangan model-model syar’i mutakhir bisa juga dipahami sebagai kritik mendasar bahwa sebagian simbol-simbol yang selama ini dipersepsikan menjadi islami harus dikoreksi ulang.

Apalagi di pesantren mengajarkan sebuah paham Islam itu nilai universal yang dapat dijumpai dalam berbagai aspek kehidupan, baik sosial, politik, ekonomi, dan budaya selagi tidak bertentangan dengan prinsip dasar agama (maqhosidus syariat). Pemberhalaan simbolik tertentu untuk dianggap sebagai Islam juga cukup bermasalah bagi pesantren.

Namun, sebagai bentuk autokritik terhadap kelompok pesantren juga, sayangnya sebagian alumni pesantren yang rajin mengampanyekan pikiran-pikiran dasar dari Barat semacam pluralisme yang malah kadang berlebihan. Maksudnya, hal tersebut membuat anak pesantren tercabut dari ciri sebagai santri sama sekali. Hingga pada taraf mengagungkan gagasan-gagasan luar serta menjadikan dalil agama sebagai alat keabsahan atas kebenarannya.

Untuk memperjelas, banyak alumni pesantren karena bisa saja terlalu PD dengan keislamannya dan membuat mereka lebih suka berpikir bebas tanpa pemaknaan secara memadahi. Persoalannya akan lebih runyam ketika seorang santri menjadikan identitasnya sebagai alumni sekolah keagamaan hanya menjadi dasar bagi arogansi diri dan basis legitimasi untuk merayakan pesona kenikmatan-kenikmatan medan perjuangan baru tersebut.

Apalagi ketika kelompok pesantren harus berseberangan dengan kelompok islami sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, diskusi ini akan lebih panjang menyangkut posisi ideologis pertarungan dua kelompok Islam di Indonesia berlangsung. Makin kuat cita rasa keislamaan yang ditampilkan kelompok islami, tanpa perlu menakarnya terlebih dahulu, sebagian kelompok pesantren langsung menganggapnya serba bukan Islam, dan itu pasti salah.